Gegara Corona, Ini Daftar Maskapai yang Diselamatkan Negara

News - Roy F, CNBC Indonesia
15 July 2020 19:25
An aerial photo shows Boeing 737 MAX aircraft at Boeing facilities at the Grant County International Airport in Moses Lake, Washington, September 16, 2019. REUTERS/Lindsey Wasson

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi Covid-19 telah menghancurkan sektor penerbangan beserta jasa pendukungnya. Maskapai-maskapai kelas dunia, hingga perusahaan penerbangan dalam negeri pun dibuat tak berdaya, pendapatan anjlok karena karantina wilayah, perusahaan pun melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karena beban meningkat.

Melihat kondisi ini, pemerintah sejumlah negara pun turun tangan ikut berupaya mempertahankan kelangsungan usaha maskapai penerbangan dengan memberikan dana talangan (bailout).

Berikut beberapa maskapai yang berupaya bertahan dan mendapatkan dana talangan dari pemerintah.

Cathay Pacific


Pada 9 Juni lalu, pemerintah Hong Kong mengungkapkan akan mengucurkan paket dana talangan sebesar HK$ 30 miliar atau setara dengan Rp 54,33 triliun (asumsi kurs Rp 1.811/HKD) untuk menyelamatkan maskapai penerbangan Cathay Pacific Airways. Suntikan dana itu akan memberikan jatah pemerintah dua kursi di dewan pengawas atau komisaris.

Menurut laporan South China Morning Post, kesepakatan bailout itu mencakup pinjaman pemerintah dan penyertaan saham. Bailout ini juga menjadi bagian dari restrukturisasi modal senilai HK$ 40 miliar (Rp 72,3 triliun) guna membantu maskapai tersebut dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Di bawah rencana penyelamatan Cathay ini, pemerintah Hong Kong akan membeli saham preferen (saham dengan hak suara terbatas) senilai HK$ 19,5 miliar sehingga akan memberikan 6% saham perusahaan, dan mendapatkan waran (pemanis saat membeli saham) senilai HK$ 1,95 miliar yang bisa dieksekusi di kemudian hari.

Selain itu, bantuan ini juga berupa pinjaman jangka pendek (bridging loan) dari pemerintah senilai HK $ 7,8 miliar yang akan memberikan dua kursi dewan komisaris di Cathay.

Kesepakatan tersebut juga termasuk penerbitan saham baru atau rights issue senilai HK $ 11,7 miliar. Dana ini akan diserap oleh pemegang saham lama yang dipimpin oleh Swire Pacific Ltd dan Air China Ltd. Saham Swire sudah dihentikan sementara pada Selasa pagi bersamaan dengan pengumuman Cathay ini.

Cathay menjelaskan Swire memegang 45% saham, Air China 30% dan Qatar Airways dengan rencana menyerap 10% saham baru untuk berpartisipasi dalam rights issue tersebut. Dengan menyerap sebagian saham baru, maka kepemilikan mereka akan turun atau terdilusi menjadi 42%, 28% dan 9,4% sesudah penerbitan saham baru ini.

Cathay sudah mendaratkan (grounded) sebagian besar pesawat akibat turunnya permintaan penerbangan di tengah aturan pembatasan perjalanan terkait virus corona. Sejauh ini, Cathay hanya menerbangkan pesawat kargo, dan penumpang ke tujuan utama seperti Beijing, Los Angeles, Singapura, Sydney, Tokyo, dan Vancouver.

Bulan lalu, Cathay membukukan kerugian yang tidak diaudit sebesar HK$ 4,5 miliar dari bisnis maskapai full-service Cathay dan Dragon selama periode Januari-April.

Maret lalu, Cathay juga menjual enam jet Boeing 777-300ER dan peralatan terkait senilai US$ 703,8 juta kepada BOCAviation Ltd. Menurut analis Morningstar, Ivan Su penjualan ini akan mencakup lebih dari setengah proyeksi arus kas keluar pada tahun 2020.

Singapore Airlines

Pada 27 Maret lalu, Singapore Airlines Ltd mengungkapkan sudah mendapatkan dana talangan hingga S$ 19 miliar (US$ 13 miliar) atau setara Rp 182 triliun (kurs Rp 14.000/US$) untuk membantu maskapai ini keluar dari dampak pandemi Covid-19.


Reuters melaporkan, dana talangan ini adalah satu-satunya paket pembiayaan terbesar yang diumumkan oleh sebuah maskapai penerbangan karena terdampak permintaan yang ambles akibat pandemi.

Pemegang saham mayoritas Singapore Airlines, Temasek Holdings, mengungkapkan akan menyerap penjualan saham perusahaan dan obligasi konversi yang diterbitkan maskapai tersebut hingga S$ 15 miliar. Selain itu, bank terbesar di Singapura, DBS Group Holdings Ltd juga memberikan pinjaman sebesar S$ 4 miliar.

"Transaksi ini tidak hanya akan membuat SIA bisa menghadapi kendala likuiditas keuangan dalam jangka pendek, tetapi bisa menunjang pertumbuhan bisnis setelah pandemi," kata Kepala Eksekutif Internasional Temasek, Dilhan Pillay Sandrasegara, dilansir Reuters.

"Pengiriman pesawat generasi baru dalam beberapa tahun ke depan akan memberikan efisiensi bahan bakar yang lebih baik serta memenuhi strategi ekspansi perusahaan," tegasnya.

Sebelumnya, Singapore Airlines atau SIA Group sudah memangkas 96% kapasitas penerbangannya hingga akhir April, mengikuti langkah yang dilakukan sejumlah maskapai penerbangan global yang juga memangkas kapasitas karena coronavirus yang menyebar cepat dan membuat permintaan perjalanan anjlok.

Dalam pernyataan resmi, dikutip Bloomberg, perusahaan akan mengkandangkan (grounded) 138 dari 147 unit pesawat Singapore Airlines dan unit bisnisnya yang lain yakni SilkAir. Adapun divisi penerbangan berbiaya murah atau LCC (low cost carrier) yakni Scoot juga mendaratkan 47 dari 49 pesawatnya.

"Tidak jelas kapan SIA Group dapat mulai melanjutkan layanan penerbangan secara normal, mengingat ketidakpastian kapan kontrol terhadap perbatasan yang ketat akan dicabut," tulis pernyataan tersebut.

Singapore Airlines akan menunda pengiriman pesawat dan mengurangi gaji dalam upaya mengurangi biaya.

Lufthansa

Pemerintah Jerman dan Lufthansa, maskapai yang terpukul keras oleh pandemi coronavirus, akhirnya mencapai kesepakatan awal dana talangan sebesar 9 miliar euro (US$ 9,8 miliar) atau setara dengan Rp 146 triliun (asumsi kurs Rp 14.900/US$).

Maskapai ini sudah melakukan pembicaraan dengan Berlin selama berminggu-minggu mengenai bantuan dana talangan ini guna membantunya mengatasi anjloknya pendapatan di tengah pandemi.

Hanya saja, manajemen juga sempat berkonflik mengingat bantuan ini tidak gratis, karena ada beberapa ketentuan kontrol pemerintah terhadap maskapai tersebut sebagai imbalan atas bailout.

Kementerian Keuangan dan Ekonomi Jerman pada Senin (25/5/2020) mengatakan bahwa Lufthansa sebetulnya perusahaan yang sehat secara operasional sebelum wabah coronavirus, perusahaan ini juga menguntungkan dan memiliki prospek yang baik untuk masa depan tetapi mendapat masalah karena Covid-19.

Pesaing-pesaing Lufthansa seperti maskapai Prancis-Belanda Air France-KLM dan maskapai penerbangan AS: American Airlines, United Airlines dan Delta Air Lines juga telah meminta bantuan negara agar tetap bertahan.

Rencananya, pemerintah Jerman akan mengambil 20% saham di Lufthansa, yang rencananya akan dijual lagi pada akhir 2023. Jerman akan membeli saham baru (rights issue) dengan nilai nominal 2,56 euro masing-masing dengan total nilai pembelian sekitar 300 juta euro.

Menteri Keuangan Olaf Scholz mengatakan paket penyelamatan itu adalah "solusi yang sangat, sangat bagus" yang memperhitungkan kebutuhan perusahaan dan pembayar pajak.

"Dukungan yang kami siapkan di sini adalah untuk jangka waktu terbatas," katanya, dilansir Reuters dan CNBC.

"Ketika perusahaan fit lagi, negara akan menjual sahamnya dan mudah-mudahan ... dengan keuntungan kecil yang menempatkan kami pada posisi untuk membiayai banyak, banyak persyaratan yang harus kami penuhi sekarang, tidak hanya di perusahaan ini."

Pemerintah juga akan menyuntikkan 5,7 miliar euro dalam penyertaan modal yang diambil secara non-voting, yang dijuluki sebagai partisipasi senyap (silent) ke dalam perusahaan. Sebagian dari penyertaan modal ini dapat dikonversi menjadi 5% saham tambahan, dengan catatan jika pembayaran kupon tidak dilakukan atau untuk melindungi perusahaan terhadap pengambilalihan investor lain.

Namun kesepakatan bailout ini masih menunggu persetujuan oleh pemegang saham serta Komisi Eropa.

Maskapai AS

Pada 9 April lalu, Departemen Keuangan AS menyebutkan bahwa akan segera membayar dana bantuan atau hibah ke maskapai-maskapai di nagara Paman Sam itu di tengah dampak pandemi Covid-19.

Tiga pejabat di industri penerbangan kepada Reuters mengatakan, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dalam pertemuan dengan maskapai penerbangan AS mengatakan akan membayar sebagian dari dana hibah US$ 25 miliar atau Rp 350 triliun (kurs Rp 14.000/US$0 dalam bentuk hibah tunai yang disetujui Kongres AS bulan lalu.

Mnuchin berbicara dengan kepala eksekutif beberapa maskapai besar dan menegaskan bahwa pemerintah AS menawarkan 70% dari bantuan dalam bentuk hibah yang tidak perlu dilunasi, dan 30% dalam pinjaman berbunga rendah, di mana maskapai diminta untuk menerbitkan waran.

Departemen Keuangan AS mengatakan pemerintah bekerjasama dengan 12 maskapai penerbangan yang diperkirakan akan mendapatkan lebih dari US$ 100 juta . Hanya sebagian besar permintaan dana yang kurang dari $ 10 juta.

Sebelumnya maskapai terbesar di Alaska, RavnAir mengajukan kebangkrutan Bab 11 dan memberhentikan hampir seluruh stafnya serta meng-grounded 72 pesawatnya.
Juru bicara United Airlines Holdings Inc juga mengatakan perusahaan sedang meninjau rincian proposal Treasury. American Airlines juga mengkonfirmasi pihaknya sedang meninjau proposal.

Reuters melaporkan setidaknya ada enam maskapai AS terbesar yang bakal mendapatkan sekitar 90% dari paket bailout US$ 25 miiar, yakni American Airlines, United Airlines, Delta Air Lines, Southwest Airlines Co, JetBlue Airways Corp , dan Alaska Airlines.

Garuda Indonesia

Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan sebanyak lima perusahaan BUMN akan mendapatkan dana pinjaman pemerintah dengan beberapa skema termasuk Mandatory Convertible Bond (MCB) atau obligasi konversi, pinjaman lunak, hingga lewat Special Mission Vehicle (SMV).

Salah satunya Garuda. DPR akhirnya memberikan restu kepada Erick agar Garuda mendapatkan MCB.

MCB Garuda Indonesia nantinya direncanakan sebesar Rp 8,5 triliun. MCB atau obligasi wajib konversi ini nantinya pinjaman yang dapat dikonversi ke ekuitas/saham, selama tiga tahun. Garuda menderita tekanan yang parah akibat penumpang turun 95% yang disebabkan Covid-19.

Garuda memang tengah dilanda kesulitan utang setelah melakukan negosiasi dengan pemegang sukuk perusahaan.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bahkan berkoordinasi dengan Kementerian BUMN untuk membantu keuangan Garuda, terutama dalam membayar utang yang jatuh tempo tahun ini.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Luky Alfirman saat itu mengatakan, bantuan seperti apa yang akan diberikan masih dalam pembahasan secara intens.

Adapun utang Garuda Indonesia yang jatuh tempo pada 3 Juni lalu adalah berupa sukuk global senilai US$ 500 juta atau setara Rp 7,5 triliun (kurs Rp 15.000/US$). Pemegang sukuk tersebut sudah menyetujui restrukturisasi sukuk ini.

"Ini lead-nya Kementerian BUMN, kami sedang pikirkan beberapa alternatif. Insya Allah untuk sukuk itu kan memang bulan Juni (jatuh tempo) kami sedang cari solusi untuk bantu Garuda," kata Luky melalui teleconference, Jumat (8/5/2020).


[Gambas:Video CNBC]

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading