Internasional

Menlu China Woles Saat Bahas AS, Mau Damai Nih?

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
09 July 2020 17:25
Chinese and U.S. flags flutter near The Bund, before U.S. trade delegation meet their Chinese counterparts for talks in Shanghai, China July 30, 2019.  REUTERS/Aly Song

Jakarta, CNBC Indonesia - Dua menteri luar negeri utama China menyampaikan komentar tentang hubungan negara itu dengan Amerika serikat (AS) dalam nada hangat pada sambutan publik minggu ini. Nada yang berbeda dari biasanya itu menimbulkan spekulasi China ingin memperbaiki hubungan dengan mitranya yang dengannya ia telah terlibat perselisihan sengit selama beberapa tahun terakhir.

"Kebijakan AS di China tetap tidak berubah. Kami masih berkeinginan untuk menumbuhkan hubungan China-AS dengan niat baik dan tulus," kata Menteri Luar Negeri China Wang Yi, Kamis (9/7/2020).


"Beberapa teman di AS mungkin menjadi curiga atau bahkan waspada dengan pertumbuhan China," tambahnya, menurut terjemahan resmi dari sambutannya yang dipublikasikan di situs web Kementerian Luar Negeri China.

"Saya ingin menekankan di sini lagi bahwa China tidak pernah bermaksud untuk menantang atau menggantikan AS, atau memiliki konfrontasi penuh dengan AS. Yang paling kami pedulikan adalah meningkatkan mata pencarian rakyat kami."

Sehari sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri Le Yucheng juga menyampaikan harapan optimis soal hubungan AS-China. Ia bahkan mengatakan China siap untuk bekerja sama dengan AS saat berbicara dalam konferensi video yang diselenggarakan oleh Institut Hubungan Luar Negeri Rakyat China dan Masyarakat Asia, yang didirikan oleh John D. Rockefeller ke-3.

Pernyataan kedua pejabat itu bertolak belakang dari pernyataan berbagai diplomat China sebelumnya, termasuk perwakilan China di Prancis sampai Sri Lanka. Biasanya mereka menyampaikan jawaban agresif baik secara langsung maupun di Twitter, setiap menanggapi soal AS.

"Baik China maupun AS tidak dapat membentuk yang lain dengan citra sendiri, dan hubungan China-AS tidak boleh didorong oleh ideologi," kata Le lagi.

"Saya juga kesulitan memahami: mengapa AS selalu berusaha mengubah negara lain dalam hubungan negara-ke-negara? Mengapa ia mencoba memaksakan ideologinya pada orang lain? Apa gunanya menghentikan suatu negara dari mengejar jalur pembangunannya yang terbukti berhasil? Ada perbedaan mendasar antara China dan Amerika Serikat dalam sistem sosial mereka," kata Le, mengkritik upaya yang dilakukan beberapa pejabat AS baru-baru ini untuk "menyeret" China ke dalam politik pemilu AS.

Hubungan AS-China telah memburuk sejak Presiden AS Donald Trump menjadi penguasa Negeri Paman Sam. Hubungan kedua negara menegang dalam berbagai hal, mulai dari perdagangan, teknologi, keamanan dan militer, hingga soal wabah Covid-19 dan soal kebebasan Hong Kong.

Akibat banyaknya perselisihan kedua negara, Yi mengatakan bahwa hubungan China-AS sedang dihadapkan pada tantangan paling berat sejak pembentukan hubungan diplomatik mereka.

AS membangun hubungan diplomatik formal dengan Cina pada 1979, dan akhirnya membantu membuka jalan bagi Cina untuk memasuki Organisasi Perdagangan Dunia (WT) pada 2001. China kemudian tumbuh menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia pada 2010.

"Sepertinya setiap investasi China didorong secara politis, setiap siswa China adalah mata-mata, dan setiap inisiatif kerja sama adalah skema dengan agenda tersembunyi," kata Yi.

"Presiden Xi Jinping telah menggarisbawahi pada banyak kesempatan bahwa kami memiliki seribu alasan untuk membuat hubungan China-AS sukses, dan tidak ada yang merusaknya," kata Yi.

"Beberapa orang mengatakan bahwa hubungan China-AS tidak akan dapat kembali ke masa lalunya. Tapi itu tidak berarti mengabaikan sejarah sama sekali dan memulai dari awal lagi, apalagi decoupling yang tidak praktis. Itu harus berarti membangun prestasi masa lalu dan mengikuti perkembangan zaman."

[Gambas:Video CNBC]


[Gambas:Video CNBC]

(res/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading