Bukan Cuma di Milenial, Ternyata Ada FOMO di Keuangan Negara

News - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
07 July 2020 12:28
DJPPR Siap Lelang SUN ORI017, Ini Keunggulannya (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia- Layaknya anak muda, dalam pengelolaan uang negara juga ada rasa takut tertinggal atau Fear of missing out (FOMO) agar tidak kehilangan momentum. Apalagi saat ini Indonesia memiliki bonus demografi yang didominasi oleh usia produktif.

Hal ini juga menjadi alasan pemerintah untuk menerbitkan surat utang negara sebagai pembiayaan dan alat untuk menyejahterakan masyarakat, seperti pembangunan infrastruktur.

"Maka supaya tidak FOMO dan kehilangan kesempatan, ada belanja negara yang tidak bisa ditunda, karena kalau ditunda dampaknya panjang. Kita melakukan pembiayaan melalui utang. Utang ini bukan sebagai tujuan, tapi alat untuk menyejahterakan bangsa ini," kata Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kementerian Keuangan Deni Ridwan kepada CNBC Indonesia belum lama ini.


Dari sisi negara penerbitan surat utang sebagai salah satu alat pembiayaan, dari sisi masyarakat, ini instrumen untuk investasi karena jika dibandingkan dengan jenis instrumen lain punya unggulan menarik. Deni memaparkan yang paling terlihat adalah keuntungannya menarik atau tidak, jika dibandingkan instrumen SBN atau ORI sejenis seperti deposito.

"Deposito perbankan saat ini, penjamin LPS, jumlah maksimal yang akan dijamin 5,5%. kalau punya tabungan cuma 10-15 juta tidak dapat. Tapi kalau punya Rp 1 juta dibelikan ORI, kupon yang ditawarkan 6,4%," katanya.

Dari sisi yield (imbal hasil) lebih besar, deposito lebih kecil. Dari pajak pun ada insetif, pajak deposito sekitar 20% sementara obligasi negara hanya 15%. Salah satu SUN yang baru diterbitkan pemerintah yakni Obligasi Negara Ritel atau ORI seri ORI 017 sejak 15 Juni 2020 dan ditutup pada 9 Juli 2020, dengan masa jatuh tempo pada 15 Juli 2023.

Adapun kupon yang ditawarkan untuk ORI 017 sebesar 6,4%. Artinya, investor yang membeli atau berinvestasi melalui ORI 017 akan mendapatkan imbal hasil sebesar 6,4% per tahun dengan kupon yang akan dibayarkan setiap bulan.

Deni mengatakan investasi di ORI menjadi hal yang menarik terutama untuk investor yang butuh income stream secara reguler. Hal ini tidak bisa didapatkan pada investasi di emas atau saham, kecuali menjual barangnya akan tetapi kalau obligasi ada pembayaran per bulan. ORI 017 juga menjadi alternatif investasi aman, cuan, dan membantu negara mengatasi permasalahan terkait penanganan pandemi Covid-19.

ORI017 merupakan seri ORI ke-17 yang diterbitkan oleh pemerintah dan penjualannya bisa dilakukan secara online. Minimal pembeliannya juga relatif kecil yaitu Rp 1 juta dan maksimal Rp 3 miliar.

"Jadi overall lebih besar dong cuan-nya (keuntungannya)" ujar Deni.

Selain itu dia menilai pandemi Covid-19 juga membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya dana darurat. Hal ini terlihat dari banyaknya jumlah investor yang mengajukan SID baru. Apalagi di masa pandemi ini milenial susah untuk berkumpul bersama dengan teman-teman, sehingga ada dana lebih untuk investasi.

"Data dimiliki 2018-2019, tahun kemarin paling banyak investasi di obligasi negara ini kaum milenial. Ini menjadi harapan baru buat negara, karena salah satu tujuan menerbitkan obligasi ritel ini menumbuhkan budaya investasi, semakin dewasa, kemampuan ekonomi makin tinggi. Kalau nanti investor dalam negeri sudah kuat, tak perlu cari-cari di luar," jelas Deni.

Deni juga berpesan agar berinvestasi di pos yang tepat, dan sebelum berinvestasi harus memahami ada tiga resiko dalam investasi, termasuk pada ORI. Pertama gagal bayar, namun untuk ORI potensi ini bisa dibilang 0 karena pembayaran bunga pokok jatuh tempo dijamin Undang-undang.

"Jadi Meski pemerintahan ganti, tak akan mengubah komitmen pembayaran," kata Deni.

Kedua adalah risiko pasar. Dalam investasi ada naik turun, sebagai salah satu acuannya adalah suku bunga Bank Indonesia (BI). Jika Suku bunga acuan naik, maka bunga deposito akan naik. Ketiga adalah risiko likuiditas. Pada tabungan, suku bunga yang diperoleh nasabah sangat kecil hanya 1%, kecuali deposito yang bisa ditempatkan dengan jangka waktu 3,6 sampai 9 bulan. Namun, deposito tak bisa diambil sewaktu-waktu karena ada jatuh tempo.

"Kalau ORI hanya 2 bulan pertama, ada holding period. Makanya untuk cocok masa sekarang, penawaran saat ini di masa pandemi masyarakat butuh penempatan dana yang aman, sebagai jaga-jaga ini mudah dicairkan," ujar Deni.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading