Internasional

Seberapa 'Menakutkan' Virus Flu Babi Baru Asal China?

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
01 July 2020 11:21
Foto Hewan Babi

Jakarta, CNBC Indonesia - China kembali menjadi sorotan. Setelah wabah virus corona (Covid-19), muncul flu jenis baru yang berpotensi menjadi pandemi di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Flu jenis baru tersebut secara genetik merupakan turunan dari flu babi A/ H1N1pdm09 yang sempat menjadi pandemi pada 2009 silam, menurut jurnal penelitian Amerika Serikat PNAS yang terbit pada Senin (29/6/2020).

Namun, ada sejumlah perubahan baru pada flu yang disebut G4 EA H1N1 ini. Menurut pada ilmuwan, flu ini dapat tumbuh dan berkembang biak di sel-sel yang melapisi saluran udara manusia.



Para ilmuwan di universitas China dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China (CDC) dalam jurnal tersebut menyebutkan jika "flu G4 EA H1N1 memiliki semua ciri penting menjadi sangat beradaptasi untuk menginfeksi manusia."

Flu G4 diamati sangat menular, bereplikasi dalam sel manusia, dan menyebabkan gejala yang lebih serius pada hewan ferret daripada virus lain. Tes juga menunjukkan bahwa kekebalan yang didapat manusia dari paparan flu musiman tidak memberikan perlindungan dari flu ini.

Menurut tes darah yang menunjukkan antibodi yang diciptakan oleh paparan virus, sekitar 10,4% pekerja di rumah pemotongan hewan dan industri babi di negara itu dikabarkan sudah terinfeksi.

Tes lainnya menunjukkan 4,4% dari populasi umum juga tampaknya telah terpapar virus tersebut.

Vaksin flu saat ini juga disebut tak dapat melindungi mereka yang sudah terpapar virus baru ini, sehingga mendesak pemerintah China untuk memantau para pekerja yang bekerja di industri yang memiliki kontak dengan hewan babi.

Meskipun virus telah berpindah dari hewan ke manusia, namun belum ada bukti bahwa virus flu baru ini dapat ditularkan dari manusia ke manusia.

"Sangat mengkhawatirkan bahwa infeksi virus G4 pada manusia akan meningkatkan adaptasi manusia dan meningkatkan risiko pandemi pada manusia," ungkap catatan para peneliti.

Sejak 2011 hingga 2018, para peneliti mengambil 30.000 sampel usap hidung babi dari berbagai rumah jagal dan rumah sakit hewan yang tersebar di 10 provinsi di China. Dari sini, peneliti mengisolasi setidaknya 179 virus flu babi.

Prof Kin-Chow Chang, yang bekerja di Universitas Nottingham di Inggris, mengatakan kepada BBC jika saat ini manusia hanya "sedang teralihkan dengan corona tapi tidak boleh melupakan virus baru yang berpotensi berbahaya".

Walau virus baru ini bukan masalah langsung, ia berkata menegaskan "kita seharusnya tidak mengabaikannya."




Sementara dalam jurnal Prosiding National Academy of Sciences, para ilmuwan menulis bahwa langkah-langkah untuk mengendalikan virus pada babi harus segera diimplementasikan. Termasuk memonitor populasi orang yang bekerja pada industri babi di negara itu .

Professor James Wood, Kepala Departemen Kedokteran Hewan di Universitas Cambridge, mengatakan kabar ini adalah pengingat bahwa manusia akan terus-menerus menghadapi risiko munculnya patogen baru.

Ia menegaskan jika hewan ternak, yang memiliki kontak yang lebih besar dengan manusia dibandingkan dengan satwa liar, dapat bertindak sebagai sumber virus pandemi.

Seorang Juru Bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan jika "virus influenza babi diketahui beredar di populasi babi di Asia dan dapat menginfeksi manusia secara sporadis".

"Ini juga menyoroti bahwa kita tidak dapat menurunkan kewaspadaan kita terhadap influenza kita harus waspada dan melanjutkan pengawasan bahkan selama pandemi COVID-19," ujar jubir WHO.

Virus corona sendiri berasal dari Wuhan, Provinsi Hubei, China. Saat ini jumlah kasus penderita Covid-19 secara akumulatif di global sebanyak 10 juta orang lebih dengan 500.000 lebih kematian.


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading