Jujur! Pengusaha Khawatir Berat dengan Ramalan Seram IMF

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
26 June 2020 07:55
Ilustrasi Sekolah. CNBC Indonesia/Andrean Kristianto

Jakarta, CNBC Indonesia - Ramalan Dana Moneter Internasional (IMF) bahwa ekonomi negara-negara di dunia minus termasuk Indonesia minus -0,3% membuat khawatir. Kalangan dunia usaha di tengah masih sulitnya bisnis bangkit di fase new normal pandemi covid-19.

"Ya tentu bikin khawatir lah," kata Wakil Ketua Kadin Indonesia Bidang Perdagangan Benny Soetrisno kepada CNBC Indonesia, Kamis (25/6).

Sementara itu, Wakil Ketua Kadin Bidang Industri Johnny Darmawan mengatakan pertumbuhan ekonomi yang diramal IMF, persis yang sudah disampaikannya kepada Menkeu Sri Mulyani. Ia memperkirakan ekonomi Indonesia di 2020 hanya bergerak antara 1% paling optimis, dan minus 1% paling pesimistis. Namun, ia mengatakan kondisi saat ini memang tak bisa banyak diharapkan. 


"Perlu waktu, kuartal kedua baru ada ada kenaikan di 2021," katanya.

Selain itu, kondisi yang masih jauh dari kata stabil ini harus ditambah makin berat dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang malah bakal memberatkan dunia usaha, seperti iuran Tapera.

"Kita dikejutkan dengan kebijakan-kebijakan yang muncul tiba-tiba seperti Tapera, teman-teman pengusaha dan juga organisasi buruh keberatan dengan tambahan iuran Tapera, kita sudah banyak sekali beban berbagai iuran dan pungutan kalau dijumlahkan angkanya menjadi sangat besar," kata Ketua Bidang Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sutrisno Iwantono.

Besarnya iuran yang dimaksud yakni beban biaya yang saat ini sudah ditanggung. Misalnya biaya energi yang masih sangat tinggi. Ia mengungkapkan usulan tentang beban listrik yang dikeluhkan semua orang, yakni karena adanya beban abudemen atau penggunaan minimal belum mendapat tanggapan yang positif. 

"Padahal sudah ada BPJS. Kita berpendapat untuk tabungan-tabungan yang sifatnya jangka panjang nanti dululah, selamatkan perut jangka pendek ini dulu," katanya.
Iwantono menilai situasi saat ini sudah seharusnya ditanggung bersama. Semua unsur baik pemerintah, pengusaha, dan kalangan pekerja perlu bergandengan tangan untuk melewati tantangan di masa pandemi ini.

"Pada prinsipnya kita menghargai upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah. Berbagai hal telah dicoba. Tapi di lapangan memang masih dirasakan lambat. Restrukturisasi perbankan juga belum berjalan sebagaimana diharapkan. Pengalaman nego-nego dengan pihak bank juga tidak semudah yang dibayangkan," katanya.

IMF membuat ramalan yang makin buruk soal ekonomi global. 

Ekonomi diproyeksikan -4,9%. Angka ini lebih rendah 1,9 poin persentase dibanding outlook IMF pada April 2020, yakni -3%.

Di Asia India diproyeksikan -4,5% dan ASEAN-5 -2%. Khusus RI, ekonomi hingga 2020 diprediksi -0,3% dan akan rebound 6,1% di 2021. Nah Resesi berpotensi besar terjadi di Indonesia di 2020 ini.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading