Terbaru! Sikap WHO Soal Hydroxychloroquin Obati Covid-19

News - Herdaru Purnomo, CNBC Indonesia
18 June 2020 05:30
This Monday, April 6, 2020, photo shows an arrangement of hydroxychloroquine pills in Las Vegas. President Donald Trump and his administration kept up their out-sized promotion Monday of an malaria drug not yet officially approved for fighting the new coronavirus, even though scientists say more testing is needed before it’s proven safe and effective against COVID-19. Trump trade adviser Peter Navarro championed hydroxychloroquine in television interviews a day after the president publicly put his faith in the medication to lessen the toll of the coronavirus pandemic. (AP Photo/John Locher)

Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyatakan untuk menyetop seluruh penelitian dan penggunaan obat malaria atau Hydrocychloroquine untuk mengobati Covid-19.

Hydrocychloroquine atau Klorokuin yang semula disebut Presiden AS Donald Trump sebagai obat terampuh mengobati Covid-19 ini ternyata tidak bermanfaat dan tak mampu sebagai obat untuk pasien yang terpapar Covid-19.

Hal itu disampaikan oleh Ana Maria Henao Restrepo, Medical Officer WHO dilansir CNBC International, Kamis (18/6/2020).

Klorokuin. (Ist)Foto: Klorokuin. (Ist)
Klorokuin. (Ist)



Pengumuman tersebut seakan menghancurkan harapan bahwa Klorokuin benar-benar bisa menyembuhkan pasien Covid-19. Sebelumnya Klorokuin menjadi salah satu yang mampu membangkitkan harapan dan kegembiraan saat Donald Trump mengumumkannya beberapa waktu lalu.

Klorokuin ternyata menyebabkan masalah pada jantung di beberapa pasien. Studi yang diterbitkan oleh New England Journal of Medicine menemukan jika Klorokuin ini tidak lebih baik dari 'placebo' dalam mencegah dan mengobati Covid-19.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS mengumumkan akan mengakhiri otorisasi penggunaan darurat untuk Klorokuin ini setelah menyimpulkan obat tersebut resmi tidak efektif terhadap Covid-19.

"Selain itu mengingat efek samping jantung serius, manfaat CQ dan HCQ dinyatakan memiliki risiko yang potensial," tulis lembaga tersebut.

Dexamethasone

Secara terpisah, pejabat WHO mendesak masyarakat untuk berhati-hati tentang dexamethason, steroid yang tengah diuji juga oleh para ilmuwan sebagai terobosan untuk Covid-19.

Pada hari Selasa, para ilmuwan di University of Oxford mengatakan hasil dari percobaan "Pemulihan" mereka menunjukkan obat itu, yang banyak digunakan untuk mengurangi peradangan.

Serta, mengurangi tingkat kematian sekitar sepertiga di antara pasien Covid-19 yang sakit parah yang dirawat.

"Hasil dari uji coba itu sangat signifikan, tetapi itu hanya satu studi," kata Dr. Mike Ryan, Direktur Eksekutif program kedaruratan WHO seraya menambahkan kajian lengkap dan data haruslah dilakukan lagi.



[Gambas:Video CNBC]

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading