Obat Malaria Dipakai untuk Covid-19, Trump Dapat Warning!

News - Ratu Rina, CNBC Indonesia
25 April 2020 08:33
INFOGRAFIS, Obat Mujarab dari Jepang Sembuhkan Pasien Corona
Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga Administrasi Makanan dan Obat-obatan (FDA) Amerika Serikat, memperingatkan Presiden Donald Trump yang telah menyebut penggunaan obat malaria hydroxychloroquine untuk pasien Covid-19 sebagai "game changer".

Seperti dilansir Reuters pada Jumat (25/04/2020), lembaga ini menganjurkan adanya pengkajian lebih lanjut terhadap penggunaan obat tersebut.

Berdasarkan analisis yang telah diajukan untuk pengkajian oleh ahli pada Selasa, penggunaan obat malaria hydroxychloroquine pertama kali disetujui pada tahun 1955. Obat ini disebut tidak mengandung risiko kematian yang lebih tinggi bagi pasien di rumah sakit veteran AS.


"Anda mendengar keduanya," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada hari Jumat setelah pengumuman FDA. "Aku bukan dokter. Sebuah studi harus dilakukan. Jika itu membantu, itu bagus. Jika tidak berhasil, jangan lakukan itu," katanya.

Trump mengatakan dirinya baru saja berbicara dengan presiden Honduras, yang telah menyebutkan soal obat itu ketika menelepon untuk meminta ventilator. "Jika berhasil, saya pikir semua orang akan mendukungnya ... tanyakan padanya, teleponlah dia."

Lebih lanjut, menurut FDA, mereka menyadari adanya peningkatan penggunaan hydroxychloroquine dan chloroquine melalui resep rawat jalan pasien dan obat-obatan malaria dapat menyebabkan irama jantung menjadi tidak normal dan detak jantung sangat cepat yang berbahaya.

Sebagai informasi, Covid-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus corona baru, yang belum memiliki pengobatan atau vaksin. Tetapi, hydroxychloroquine telah banyak digunakan dalam upaya untuk menghambat penyakit Covid-19 berdasarkan laporan anekdotal yang mungkin memberikan beberapa manfaat.

Ada beberapa uji coba acak yang sedang berlangsung di Amerika Serikat dan di tempat lain, seiring dengan Institusi Kesehatan Nasional yang pada minggu lalu, telah memulai penelitian untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitas dari hydroxychloroquine.

Sebuah tim peneliti di Marseilles, Prancis, menerbitkan data yang menunjukkan bahwa lebih dari 80 pasien Covid-19 dengan gejala ringan yang diobati dengan hydroxychloroquine dan azitromisin antibiotik, 93 persen diantaranya tidak terdeteksi memiliki tingkat virus setelah delapan hari.

Dokter telah mempertanyakan nilai penelitian Marseille tersebut dan beberapa penelitian dari China yang dinilai terlalu sedikit atau kurang dirancang untuk menawarkan bukti adanya manfaat.

Pengumuman FDA ini muncul sehari setelah regulator obat Uni Eropa memperingatkan efek samping dari obat-obatan tersebut, dan mendesak para tenaga kesehatan profesional untuk memonitor pasien dalam penggunaan obat-obatan tersebut secara ketat.

FDA telah mengizinkan penyedia layanan kesehatan untuk menggunakan obat-obatan tersebut untuk Covid-19 melalui otorisasi penggunaan daruratnya, tetapi belum menyetujui penggunaannya untuk menyembuhkan penyakit ini.

Risiko irama jantung dapat meningkat ketika obat-obatan tersebut dikombinasikan dengan obat lain, seperti antibiotik azithromycin, serta pada pasien yang memiliki penyakit jantung dan ginjal bawaan, katanya pada Jumat.

Dalam beberapa jam setelah dukungan awal Trump pada 19 Maret lalu, para ahli rantai pasokan farmasi melaporkan adanya kekurangan saat para dokter mulai meresepkan hydroxychloroquine untuk diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Pasien juga meminta dokter untuk menggunakannya dalam pengobatan.

Sementara pada Rabu dikutip Reuters, Direktur dari sebuah agensi AS, Rick Bright, yang ditugasi mengembangkan obat-obatan untuk memerangi pandemi mengaku bahwa dia dipecat karena dia menganjurkan pemeriksaan dengan pengawasan hati-hati dalam pengobatan tersebut.






[Gambas:Video CNBC]




(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading