Internasional

Tensi Duo Korea Masih Tinggi, Korut Disebut Mobilisasi Misil

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
11 June 2020 15:11
FILE - In this Saturday, April 11, 2020, file photo provided by the North Korean government, North Korean leader Kim Jong Un attends a politburo meeting of the ruling Workers' Party of Korea in Pyongyang. The South Korean government is looking into reports that North Korean leader Kim is in fragile condition after surgery. Officials from South Korea’s Unification Ministry and National Intelligence Service couldn’t immediately confirm the reports citing an anonymous U.S. official who said Kim was in “grave danger.” Independent journalists were not given access to cover the event depicted in this image distributed by the North Korean government. The content of this image is as provided and cannot be independently verified. Korean language watermark on image as provided by source reads:

Jakarta, CNBC Indonesia - Situasi Korea Utara dan Korea Selatan sedang tak menggenakan saat ini. Kedua negara tengah memanas.

Korut memutuskan hubungan komunikasi dengan negeri jiran-nya itu. Pasalnya Korsel dianggap membiarkan pemberontak Korut menyebarkan brosur anti pemerintah Kim Jong Un.



Mengutip The Korea Herald, baru-baru ini Korut juga terlihat memobilisasi beberapa rudalnya. Hal ini diketahui dari sumber otoritas AS.

Beberapa rudal diketahui bergerak dengan kendaraan ke Provinsi Pyeongan Selatan, di Utara Pyongyang. Di mana Korut melakukan uji coba ICBM (peluru kendali balistik antarbenua) di 2017 lalu.

Analis mengkhawatirkan akan adanya agresi dari Korut. Apalagi Agustus ini Seoul dan Washington disebut akan melakukan latihan bersama.

Meski demikian pejabat Seoul menilai, pergerakan itu mungkin terkait parade militer Korut 25 Juni mendatang. "Unjuk kekuatan dengan meluncurkan ICBM di parade adalah sangat mungkin," kata Direktur Divisi Korut di Institut Korea untuk Unifikasi Nasional.

Sebelumnya, di hari ini Korut juga mengirimkan kecaman pada AS. Pejabat negeri itu mengancam akan mengganggu kelancaran pemilihan umum presiden Amerika Serikat (AS) yang akan digelar pada November mendatang.

Hal itu merupakan konsekuensi yang akan diterima AS, bila negara itu mencampuri urusan Korut dengan Korsel. Sebelumnya, Departemen Luar Negeri AS mengatakan pihaknya kecewa pada Korea Utara karena memutus hubungan komunikasi dengan Korsel.




"Jika AS mencampuri urusan negara lain dengan pernyataan ceroboh, bukan mengurus urusan internalnya ... mungkin (AS akan) menghadapi hal yang tidak menyenangkan yang sulit untuk dihadapi," kata Kwon Jong Gun, direktur jenderal yang mengurusi soal AS di Kementerian Luar Negeri Korut.

"(Tidak mencampuri urusan) akan baik tidak hanya untuk kepentingan AS tetapi juga untuk memudahkan pemilihan presiden mendatang."


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading