Internasional

Pentagon Kirim 1.600 Tentara Jaga Washington, AS Makin Gawat?

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
03 June 2020 13:16
Demonstran menyambut anggota Pengawal Nasional di Amerika Serikat. AP/Ringo H.W. Chiu
Jakarta, CNBC IndonesiaPentagon dikabarkan mengerahkan 1.600 tentara aktif untuk mengamankan Washington D.C. Ditulis CNN International, ini dilakukan sebagai bentuk respons pemerintah pada protes di ibu kota AS tersebut.

Juru Bicara Pentagon Johnathan Hoffman mengatakan tentara tersebut dikirim dari Fort Bragg di North Carolina dan Fort Drum di New York. Tidak ada tentara aktif yang dikirimkan sebelumnya ke area ini, hanya tentara cadangan Garda Nasional.

Demonstran menyambut anggota Pengawal Nasional di Amerika Serikat. AP/Ringo H.W. ChiuFoto: Demonstran menyambut anggota Pengawal Nasional di Amerika Serikat. AP/Ringo H.W. Chiu
Demonstran menyambut anggota Pengawal Nasional di Amerika Serikat. AP/Ringo H.W. Chiu



"Tentara aktif ditempatkan di pangkalan militer di wilayah ibu kota nasional tapi bukan Washington DC," kata Hoffman dalam sebuah pernyataan pada Selasa (2/6/2020) malam, dikutip Rabu (3/6/2020).

"Mereka berada dalam status siaga tinggi tetapi tetap di bawah otoritas dan tidak berpartisipasi dalam pertahanan untuk operasi sipil."

Pernyataan ini keluar setelah Gubernur negara bagian New York, Virginia, Pennsylvania dan Delaware menolak permintaan dari Menteri Pertahanan AS Mark Esper untuk menggunakan pasukan Garda Nasional guna membantu keamanan di Washington.

Garda Nasional sendiri merupakan pasukan yang ditempatkan di 50 negara bagian dan sejumlah wilayah lain di bawah kekuasaan AS. Berbeda dengan tentara aktif, Garda Nasional bekerja paruh waktu.

Di mana sebagian anggota bisa memiliki kehidupan sipil. Saat ini, sekitar 3.600 tentara Garda Nasional terdiri dari 1.300 Washington dan 2.300 dari negara bagian lain, saat ini berada di ibukota.

"Saya mengonfirmasi pasukan tentara nasional dari New York diharapkan datang ke Washington malam tadi (Senin), tapi izin tidak diberikan gubernur," kata Juru Bicara Pentagon lain Lt Kol Chris Mitchell.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump memang mengancam akan memerintahkan ribuan tentara bersenjata lengkap untuk mengamankan demo anti-rasisme di AS. Apalagi, jika wali kota dan gubernur tidak bisa mengendalikan kekerasan yang terjadi.

Kerusuhan muncul di AS setelah kematian seorang warga Afro-Amerika George Floyd. Ia tewas di tangan 'oknum' polisi di Minneapolis 25 Mei 2020 lalu.

Ia adalah seorang pria kulit hitam berusia 46 tahun. Tragedi ini, tulis AFP, bermula saat George ditangkap karena diduga melakukan transaksi memakai uang palsu.

Uang yang ia gunakan senilai US$ 20 (Rp 292 ribu). Dalam sebuah video yang menjadi viral, saat penangkapan sang polisi bernama Derek Chauvin, menekan leher Floyd dengan lututnya.

Padahal ia dalam keadaan sedang diborgol dan menelungkup di pinggir jalan, selama kurang lebih tujuh menit. Ini membangkitkan semangat anti-rasisme di AS.

Ini merupakan hari ke-8 kerusuhan terjadi. Dari data CNN International, di New York ada 200 pemdemo yang sudah ditangkap kepolisian setempat.



[Gambas:Video CNBC]










(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading