AS Terjunkan Juru Lobi Rp30 M, Game of Thrones Arab Memanas!

News - Redaksi CNBC Indonesia, CNBC Indonesia
01 June 2020 12:43
Saudi Arabia's Crown Prince Mohammed bin Salman poses for the camera during his visit to Great Wall of China in Beijing, China February 21, 2019. Bandar Algaloud/Courtesy of Saudi Royal Court/Handout via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS PICTURE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY.
Jakarta, CNBC Indonesia- Drama kudeta dan perebutan tahta di Arab Saudi tak mereda meski ada badai corona. Justru, drama semakin panas dengan mulai intervensinya pihak Amerika Serikat dan Eropa menuntut pembebasan para pangeran di negeri tersebut.

Melansir AFP, AS kerahkan juru lobi senilai US$ 2 juta atau setara Rp 30 miliar untuk meminta pemerintahan Arab Saudi membebaskan para pangeran yang kini berada di dalam bui karena tuduhan kudeta. Sementara tekanan dari Eropa datang berupa petisi serius dari para anggota parlemen.

Laporan para sumber AFP mengatakan pemidanaan para pangeran ini merupakan upaya putra mahkota Mohammed bin Salman memuluskan langkahnya menduduki tahta.


Ia, kata para sumber, menyingkirkan rivalnya dengan semena-mena. Tidak cuma memasukkan penjara para pesaingnya yang merupakan sepupu serta pamannya sendiri, Pangeran Salman juga menciduk mereka yang menentang pemerintahannya.



Aksinya ini dilancarkan sejak 2018, dengan menahan Pangeran Salman bin Abdulaziz dan Ayahnya. Penangkapan para pesaingnya ini tak berhenti sampai Maret lalu, ketiga keluarga kerajaan yang ditangkap saat itu adalah Pangeran Ahmed bin Abdulaziz al Saud, Pangeran Mohammed bin Nayef, serta Pangeran Nawaf bin Nayef.

Drama kekuasaan yang berbahaya juga telah menyapu anggota keluarga Saad Aljabri, orang kepercayaan salah satu pangeran yang ditangkap sekaligus merupakan pejabat tinggi intelijen negara tersebut. Mereka kemudian melarikan diri ke Kanada dan diyakini memiliki rahasia kunci negeri asalnya.

"Ini adalah penangkapan yang tak berdasar," ujar sumber AFP yang merupakan kerabat bangsawan yang ditangkap. "Ini penculikan di siang bolong, dan pemaksaan," jelasnya.

Tekanan Asing
Berdasar laporan internal yang didapatkan AFP, delegasi parlemen Eropa diketahui meminta kerajaan Saudi untuk membebaskan pangeran yang ditahan oleh putra mahkota dalam kunjungannya ke Riyadh, Februari lalu.

"Parlement Eripa juga sudah meminta keterangan dari kerajaan terhadap kasus tersebut dengan mengirimkan surat tertulis untuk putra mahkota, dan belum dijawab," ujar Wakil Kepala Delegasi Parmelen untuk hubungan dengan Arab Peninsula, Marc Tarabella.

Sementara, Washington juga diam-diam telah menerjunkan pelobi andal mereka Robert Stryk dari Sonoran Policy Group dengan tarif terkontrak US$ 2 juta pada Mei ini untuk melepaskan salah satu bangsawan arab yang ditahan sang putra mahkota.



Semakin menarik karena juru lobi ini disebut-sebut dalam pemberitaan memiliki koneksi dekat dengan administrasi pemerintahan Donald Trump. Stryk sendiri direkrut oleh Hasim Mughal, salah seorang rekan kepercayaan Pangeran Salman bin Abdul Azis yang berlokasi di Paris.

Mughal merupakan mantan penasehat keuangan Pangeran Salman yang kini ditahan, ia bergerak mengumpulkan US$ 2 juta dari bangsawan Arab yang tersisa untuk menyewa Stryk.

Kerajaan Arab sendiri saat ini masih bergelut dengan kondisi ekonomi yang merosot akibat corona, dan hubungan yang sedang tak mesra dengan AS akibat kebijakan-kebijakan si putra mahkota yang dinilai terlalu agresif.

Putra mahkota yang dikenal dengan julukan MBS ini secara terang-terangan menyingkirkan rival politiknya.

Ia menahan para sepupu, kerabat, dan pejabat-pejabat kerajaan yang ia nilai menghambat jalannya untuk menjadi Raja Arab.

[Gambas:Video CNBC]






(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading