Harga Komoditas Anjlok Gegara Corona, Tapi Siap Rebound!

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
30 May 2020 10:30
Pekerja mengangkut hasil panen kelapa Sawit di kebun Cimulang, Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/3). Badan Pusat Statistik BPS  mengumumkan neraca Perdagangan (Ekspor-impor) Pada bulan Februari, nilai ekspor mencapai US$ 12,53 miliar, atau turun 11,33% dari tahun sebelumnya (YoY). Nilai ekspor minyak sawit sepanjang Januari-Februari 2019 hanya mencapai US$ 2,94 miliar, yang artinya turun 15,06% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2018.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi yang diakibatkan oleh virus corona (Covid-19) mengakibatkan melemahnya permintaan global dan disrupsi dari sisi rantai pasok. Harga-harga komoditas berguguran. Namun seiring dengan pelonggaran lockdown dan segala pembatasannya menyongsong era new normal harga komoditas mulai rebound.

Tahun 2020 seolah jadi periode dengan peruntungan yang buruk (bad luck) bagi perekonomian global. Wabah Covid-19 yang merebak di lebih dari 200 negara dan teritori di berbagai penjuru dunia menyebabkan krisis kesehatan yang menyeret performa ekonomi global anjlok.

Banyak negara yang terjangkit memilih untuk mengambil tindakan ketat seperti karantina wilayah (lockdown) untuk menekan angka penyebaran kasus Covid-19. Tak kurang dari 3 miliar orang dipaksa untuk #stayathome dalam jangka waktu berbulan-bulan.


Lockdown bukan berarti menghendaki orang-orang untuk bekerja, beribadah dan belajar dari rumah saja. Lebih dari itu lockdown juga menimbulkan sederet konsekuensi yang ongkosnya jelas besar bagi perekonomian suatu negara.

Roda ekonomi dipaksa melambat, bahkan nyaris berhenti. Perkantoran tutup, pabrik-pabrik pun kosong atau tetap beroperasi dengan kapasitas yang lebih rendah. Artinya produksi turun yang berakibat pada terganggunya rantai pasok dan dirumahkannya para pegawai.

Bukan hanya dirumahkan saja tetapi banyak juga yang kena pemutusan hubungan kerja (PHK) sehingga statusnya berubah jadi pengangguran. Daya beli melemah dan permintaan terseret turun. Lockdown pada akhirnya membawa dampak negatif ganda pada perekonomian.

Memang tidak semua negara menerapkan lockdown. Ada juga yang hanya menerapkan pembatasan sosial (social distancing) seperti Korea Selatan misalnya. Namun tetap saja kinerja ekonominya goyah. Volume perdagangan pun mengalami kontraksi. Akibatnya harga-harga komoditas anjlok parah, termasuk harga komoditas unggulan RI.
 
Volume Perdagangan Global

Volume Perdagangan GlobalFoto: Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) mencatat sejak awal tahun hingga 15 Mei lalu, harga-harga komoditas unggulan Indonesia seperti batu bara, nikel, CPO, timah, karet dan tembaga mengalami kontraksi. Padahal lebih dari separo ekspor RI adalah berbasis komoditas, sehingga tekanan pada permintaan eksternal membuat ekonomi Indonesia sangat rentan akan gejolak pada pergerakan harga komoditas.

Namun seiring dengan menurunnya jumlah kasus Covid-19 di berbagai penjuru dunia, banyak negara yang sudah mulai melonggarkan pembatasannya.  Pada akhir April setidaknya ada 32 negara (mayoritas negara-negara Eropa) yang mulai memilih untuk tidak terlalu ketat dalam melaksanakan upaya penanganan wabahnya.

Aktivitas ekonomi pun tampak mulai bergeliat. Terutama ekonomi China yang lebih dulu mendeklarasikan kemenangannya dalam peperangan melawan musuh ultra mikroskopik.

China dengan populasinya yang sangat besar serta ekonominya yang ditopang oleh konsumsi domestik membuatnya menjadi salah satu negara dengan konsumsi komoditas terbesar di dunia.

Sehingga wajar saja ketika semakin banyak negara yang melonggarkan lockdown prospek ekonominya semakin membaik dan permintaan pun bisa ikut terkerek. Dampaknya pun dirasakan oleh pasar komoditas. Memasuki bulan Mei dengan bertambahnya negara yang melakukan pelonggaran, harga komoditas mulai merangkak naik.




TIM RISET CNBC INDONESIA


(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading