Internasional

Tak Mau 'Kawin Paksa', Taiwan & China Panas Lagi

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
20 May 2020 16:52
In this photo taken Thursday, Jan. 9, 2020, supporters of the Nationalist or KMT party pose with the Taiwanese flag during a rally for the presidential election in Taipei, Taiwan. About two-thirds of Taiwanese don't identify as Chinese, according to a survey released Tuesday, highlighting the challenge China faces to bringing the self-governing island under its control. The U.S.-based Pew Research Center found that 66 percent view themselves as Taiwanese, 28 percent as both Taiwanese and Chinese and 4 percent as just Chinese. (AP Photo/Ng Han Guan)
Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan Taiwan dan China makin tegang. Taiwan tidak bisa menerima jadi bagian dari China, di bawah tawaran "satu negara, dua sistem".

Hal ini diutarakan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen, sebagaimana ditulis Reuters, Rabu (20/5/2020). Ia dengan tegas menolak klaim kedaulatan China.




"Kedua belah pihak memiliki kewajiban untuk menemukan cara untuk hidup berdampingan dalam jangka panjang dan mencegah intensifikasi antagonisme dan perbedaan," kata perempuan tersebut dalam pelantikan sebagai presiden untuk kedua kalinya.

"Di sini saya ingin mengulangi kata-kata, perdamaian, paritas, demokrasi, dan dialog. Kami tidak akan menerima penggunaan "satu negara dua sistem Beijing", yang menurunkan posisi taiwan dan merusak status quo lintas-selat. Kami teguh pada prinsip ini."



China menegaskan reunifikasi tak bisa dihindari dan tak akan menolerir kemerdekaan Taiwan, yang masih dianggap sebagai salah satu provinsi. Konsep "satu negara dua sistem" ini sebelumnya dijalankan di Hong Kong.

"Reunifikasi adalah keniscayaan," ujar Kantor Urusan China-Taiwan menanggapi Tsai.

"Kami memiliki kemauan kuat dan keyakinan untuk mempertahankan kedaulatan nasional dan integritas wilayah."

[Gambas:Video CNBC]






(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading