Panas dengan China, AS Kirim Bomber ke Laut China Selatan

News - Redaksi, CNBC Indonesia
17 May 2020 04:55
The MQ-4C Triton unmanned aircraft system completes its inaugural cross-country ferry flight at Naval Air Station Patuxent River, U.S., September 18, 2014. Picture taken September 18, 2014. U.S. Navy/Handout via REUTERS THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY.
Jakarta, CNBC IndonesiaChina dan Amerika Serikat sepertinya makin panas di Laut China Selatan. Setelah China dikabarkan intens mengirimkan militernya, kali ini AS juga disebut mengoperasikan tentara ke kawasan ini.

Hal ini dikabarkan oleh CNN International pada Jumat (15/5/2020). Selama beberapa minggu terakhir kapal-kapal perang Angkatan Laut AS dan kapal pembom Angkatan Udara B-1 kerap berpatroli.

AS juga disebut mengirimkan pesawat pembom. Tindakan ini adalah dukungan bagi kawasan Indo-Pasifik agar tetap bebas dari intervensi dan terbuka di tengah pandemi COVID-19.


"Republik Rakyat China berusaha menggunakan fokus regional pada COVID-19 untuk secara tegas memajukan kepentingannya sendiri," kata Kapten Angkatan Laut AS dan Juru Bicara Komando Indo-Pasifik militer AS Michael Kafka.

Selain Kafka, komandan komando Global Strike Air Force Jenderal Timothy Ray, mengatakan militer AS masih sangat siap untuk merespons tindakan China. Global Strike Air Force bertugas mengawasi pasukan bomber di Laut China Selatan.

"Kami memiliki kemampuan dan kapasitas untuk memberikan tembakan jarak jauh di mana saja, kapan saja dan dapat membawa daya tembak yang luar biasa - bahkan selama pandemi," kata Ray.

Sebenarnya, China juga secara rutin memprotes kegiatan Angkatan Laut AS di wilayah tersebut. Bahkan, sering mengirim kapal atau pesawat terbang untuk membayangi kapal AS.

Dari citra satelit, ditulis Forbes, Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLANAF) China juga sudah membuat basis di salah satu pulau buatannya di Laut China Selatan. Pesawat itu mendarat di Fiery Cross Reef, sebuah wilayah yang disengketakan.

Wilayah Laut China selatan merupakan lokasi strategis yang krusial. Dalam data CNBC International tahun 2018, perairan ini merupakan jalur terkemuka dengan perdagangan senilai US$ 5,3 triliun yang melintasi perairan ini tiap tahun.

Kedua, apa yang ada di dalamnya yakni gas dan minyak. AS diperkirakan sudah menempatkan 'kaki' di 11 miliar barel minyak dan 190 triliun kaki kubik gas di laut ini.

Sementara China juga kabarnya sudah menjejakkan kaki di daerah dengan perkiraan 125 miliar barel minyak dan 500 triliun kaki kubik gas. Meski belum ada penemuan yang berarti.

Menurut hukum internasional, setiap negara memiliki hak untuk mengklaim hingga 12 mil laut dari pantai sebagai wilayahnya. Dan dapat membentang zona ekonomi ekslusif (ZEE) hingga 200 mil laut untuk kegiatan memancing atau pengeboran energi.

Namun China mengklaim luasnya mencapai 1200 mil, meski kurang dari 200 mil dari beberapa area pesisir Malaysia, Filipina dan Vietnam. Hal ini sem[at berujung ke PBB dengan kekalahan klaim China.

[Gambas:Video CNBC]





(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading