Rumah Kosong Tapi Tagihan Listrik Tetap Tinggi, Kok Bisa?

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
07 May 2020 03:58
Tarif Listrik Non Subsidi Tidak Naik
Jakarta, CNBC Indonesia- Heboh soal tagihan listrik yang membengkak untuk pemakaian di April kemarin masih jadi pembahasan hangat masyarakat. Banyak yang meyakini diam-diam ada kenaikan tarif listrik oleh PT PLN (Persero).

Ternyata, bukan tarif listrik yang naik melainkan konsumsi listrik yang melonjak sejak Maret 2020. Tapi ada kekeliruan penghitungan dari PLN, sehingga selisih tagihan tersisa di Maret masuk ke tagihan April. Sehingga ketika menerima tagihan listrik pada awal Mei, banyak warga yang kaget.

Ini bermula karena diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak Maret, terutama di DKI Jakarta. Gara-gara PSBB, PLN mengambil kebijakan tidak ada pengecekan meteran listrik oleh pegawai PLN ke pelanggan listrik pasca bayar.


Sebelumnya, PLN mengumumkan tagihan akan dihitung berdasar rata-rata pemakaian tiga bulan terakhir. Jadi untuk konsumsi Maret, dihitung tagihannya seperti konsumsi di Desember, Januari, dan Februari.



Tapi, PLN tampaknya lupa bahwa konsumsi Maret tidak bisa disamakan dengan Februari. Sebab, ada kebijakan PSBB yang memaksa warga bekerja di rumah dan mengakibatkan konsumsi listrik naik. Misal di Februari hanya habiskan 50 kwh, di Maret bisa naik jadi 70 Kwh.

"Pada bulan Maret, masyarakat sudah melakukan PSBB sehingga terjadi kenaikan konsumsi listrik akibat banyaknya aktivitas pelanggan di rumah, hal ini menyebabkan terjadinya selisih antara jumlah penggunaan riil dengan pencatatan (yang didasarkan angka rata-rata selama tiga bulan)," jelas Executive Vide President Corcomm PT PLN (Persero) I Made Suprateka dalam keterangan tertulisnya, Rabu (6/5/2020).

Nah, lantas bagaimana dengan keluhan rumah kosong tapi tagihan tetap tinggi?

General Manager Unit Induk Distribusi Jakarta Ikhsan Ahsaad menjelaskan karena ada kebijakan tagihan listrik rata-rata tiga bulan, maka untuk rumah kosong sepanjang Maret juga dihitung sama pemakaiannya seperti bulan Februari, Januari, dan sebelumnya.

"Karena diambil rata-rata 3 bulan, dengan komunikasi pelanggan kalau tidak puas bisa kami jelaskan agar pahami kondisi ini," jelas Ikhsan.

Ia mengaku menerima lebih dari 2000 laporan soal tagihan listrik.

Selain karena kebijakan tagihan rata-rata, rumah kosong juga dikenakan semacam abonement atau tagihan minimal yang wajib dibayarkan.

"Kita ada energi minimum 40 jam, jadi itu tetap dikenakan," jelasnya.

PLN, kata dia, mencatat dan menerima semua laporan ini. Untuk yang tagihannya kelebihan, akan dikompensasikan ke tagihan berikutnya. "Kami perhitungkan di bulan depan, data terdokumentasi jadi rapih dan aman," jelasnya.

Begini simulasi penurunan tarifnya:

Simulasi Tagihan Turun (PLN)Foto: Simulasi Tagihan Turun (PLN)
Simulasi Tagihan Turun (PLN)


Ia juga mengajak masyarakat untuk menghemat listrik di saat bekerja dari rumah, matikan alat elektronik yang tidak diperlukan seperti AC dan lampu jika sedang tak dipakai. "Supaya tidak mahal bayar listriknya."




(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading