Internasional

Sejuta Drama AS-China, Kini Konflik di Laut China Selatan

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
02 May 2020 10:28
Kapal Perang AS Dituduh Melintas Kawasan China Tanpa Izin (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dan China kembali terlibat perselisihan. Namun kali ini bukan dalam hal perang dagang maupun soal virus corona (COVID-19). Melainkan soal pelanggaran di Laut China Selatan.

Perselisihan itu bermula dari sikap AS yang dianggap China provokatif di wilayah Laut China Selatan. Itu karena kapal perang AS tetap berlayar di sekitar pulau Paracel, wilayah yang diklaim China, meski sebelumnya telah diperingatkan untuk menjauhi wilayah tersebut.

Sebagaimana diketahui, Sebuah kapal perang Angkatan Laut AS berlayar di dekat pulau Paracel di Laut China Selatan pada hari Selasa (28/4/2020). Kapal AS yang bernama USS Barry itu sedang menjalankan "operasi navigasi" saat berlayar di daerah itu.



Kejadian itu berlangsung sekitar seminggu setelah China memperluas klaimnya atas wilayah Paracel. China bahkan telah memberi nama resmi berbahasa China pada 80 pulau di Laut China Selatan.

Akibat langkah itu, Militer China menilai kapal perang AS melanggar kedaulatan negara itu.

"Kapal perang USS Barry menerobos masuk ke perairan di sekitar Kepulauan Paracel tanpa izin," kata Juru Bicara militer China (PLA) dari Komando Southern Theatre Li Huamin, dikutip dari South China Morning Post, Rabu.

Hal itu, menurut dia, mendorong pemerintah untuk mengintensifkan patroli udara dan laut. Bukan cuma untuk melacak dan memantau, melainkan juga mengidentifikasi dan mengusir AS.

"Tindakan-tindakan provokatif oleh pihak AS ini ... telah secara serius melanggar kedaulatan dan kepentingan keamanan nasional China," katanya lagi melalui akun media sosial WeChat.

"AS sengaja meningkatkan risiko keamanan regional dan dapat dengan mudah memicu insiden yang tidak terduga. Tindakan itu tidak sesuai dengan suasana saat ini karena komunitas internasional tengah memerangi pandemi ... serta perdamaian dan stabilitas regional," lanjut Li.




Sebagai tanggapan atas masalah ini, Angkatan Laut AS menyebut apa yang China lakukan tidak sesuai hukum internasional.

"AS berusaha menegaskan hak, kebebasan, dan penggunaan laut secara sah yang diakui dalam hukum internasional," kata Angkatan Laut dalam sebuah pernyataan sebagaimana dikutip dari Chanel News Asia, Kamis.

"Klaim-klaim maritim yang melanggar hukum dan mengambil Laut China Selatan merupakan ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap kebebasan laut, termasuk kebebasan navigasi dan penerbangan, dan hak lintas semua kapal yang tidak bersalah," tambah militer AS.

Dalam sejarahnya, AS memang menolak klaim teritorial China atas sebagian besar Laut China Selatan, termasuk wilayah Paracel, yang juga diklaim oleh Vietnam dan Taiwan. Wilayah ini diyakini memiliki cadangan minyak dan gas yang berharga.

Kepulauan Paracel sendiri dikenal dengan nama Kepulauan Xisha oleh China. Ada lebih dari 30 pulau yang membentang di antara garis pantai Vietnam dan China dan hampir seluruh wilayah Laut China Selatan diklaim China. Ini membuat sejumlah negara ASEAN meradang.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

Caution! Tujuh Kapal Selam AS Invasi Laut China Selatan


(res/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading