RI Khawatir Harga Vaksin & Obat COVID-19 Bakal Mahal

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
01 May 2020 10:59
Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi (Screenshot)
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak menjadi wabah di Wuhan, China, pada Desember 2019 lalu, wabah virus corona (COVID-19) telah menginfeksi 3.301.792 orang secara global hingga Jumat (1/5/2020) pukul 05:45 WIB.

Dari total itu, sebanyak 233.729 orang telah meninggal dunia dan 1.038.099 sembuh, menurut data Worldometers. Sementara itu terkait penyebarannya, wabah ini sudah dikonfirmasi di 212 negara dan wilayah di seluruh dunia.

Seiring pesatnya penyebaran wabah, banyak pihak terus berupaya menemukan vaksin dan obat yang ampuh untuk membasmi penyakit mematikan ini. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hingga saat ini telah ada lebih dari 120 vaksin COVID-19 yang sedang dikembangkan berbagai pihak. Enam diantaranya dalam proses uji klinis.


Namun demikian, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menyatakan kekhawatirannya soal distribusi dan harga dari vaksin dan obat untuk COVID-19 apabila telah ditemukan nanti.

Retno mempertanyakan apakah vaksin COVID-19 akan bisa diakses dan dimiliki dengan harga terjangkau oleh semua negara, utamanya negara-negara terbelakang (least developed countries/LDCs).

"Pada saat vaksin nantinya sudah selesai dikembangkan dan obat-obatan yang saat ini sedang banyak dilakukan uji klinis telah selesai, maka yang menjadi pertanyaan kita adalah "Apakah semua negara memiliki akses terhadap vaksin dan obat-obatan tersebut dengan harga yang terjangkau?"" kata Retno dalam video briefing dengan wartawan, Rabu lalu.

"Pertanyaan ini tentunya sangat relevan karena rezim paten internasional sering tidak kompatibel dengan keperluan umat manusia di seluruh dunia. Terutama yang berasal dari negara berkembang dan least developed countries."

Namun demikian, Retno mengatakan dirinya akan terus berupaya untuk mewujudkan vaksin dan obat COVID-19 yang dapat diakses dan dijangkau oleh semua negara secara adil, melalui diplomasi.

"Oleh karena itu, diplomasi Indonesia aktif memperkuat multilateralism." katanya. "Jadi kita ikut aktif dalam memperkuat multilateralism dengan tujuan utama saat ini mewujudkan akses yang berkeadilan atau equitable bagi negara-negara berkembang dan LDCs terhadap vaksin dan obat-obatan dengan harga yang terjangkau."

Dalam kesempatan itu, Retno juga mengatakan bahwa dirinya telah sering membahas masalah ini dalam berbagai pertemuan internasional termasuk pada pertemuan Ministerial Coordination Group on COVID-19 atau MCGC yang diikuti oleh 11 menteri luar negeri, yaitu dari Kanada, Jerman, Perancis, Inggris, Australia, Indonesia, Singapura, Afrika Selatan, Brazil, Turki dan Peru.

Dalam pertemuan yang rutin dilakukan itu, Retno menekankan pentingnya multilateralisme. Ia juga mengatakan bahwa Indonesia terus menekankan pentingnya distribusi barang-barang secara lancar (flow of goods) selama pandemi.

"Dalam kaitan ini, Indonesia akan menyampaikan non-paper mengenai kerjasama konkret yang dapat dilakukan. Duta Besar Indonesia di Ottawa akan menjadi ujung tombak diskusi mengenai non-paper Indonesia tersebut." katanya.

[Gambas:Video CNBC]


Retno juga menyebut bahwa Indonesia adalah satu di antara lebih dari 100 negara yang tergabung di dalam inisiatif Solidarity Trial WHO. Solidarity Trial ditujukan untuk mencari treatment yang paling efektif untuk pengobatan COVID-19, jelas Retno.

"Solidarity Trial ini dilakukan melalui perbandingan antara pelaksanaan treatment yang standar dengan treatment yang menggunakan empat jenis obat-obatan yang sedang diujicobakan," jelasnya.

Empat jenis obat-obatan itu, yaitu remdesivir, lopinavir/ritonavir, kemudian lopinavir/ritonavir yang dikombinasikan dengan Interferon Beta 1-A, dan chloroquine atau hidroksiklorokuin.

"Di samping itu, dari koordinasi yang dilakukan dengan berbagai pihak, kita juga memperoleh informasi bahwa berbagai kerja sama di skala internasional dan nasional saat ini secara intensif dilakukan untuk mengembangkan vaksin maupun uji coba obat-obatan Covid-19."

"Kimia Farma dengan Gilead Sciences tengah menjajaki penggunaan remdesivir yang saat ini sedang menunggu hasil uji klinis di Amerika Serikat. Biofarma dengan lembaga Eijkman dalam pengembangan plasma darah untuk membantu pasien yang memiliki gejala sedang. Sementara itu Biofarma dengan Kemenristek dan lembaga Eijkman telah membentuk konsorsium untuk pengembangan vaksin. Konsorsium ini juga akan berkolaborasi dengan mitra-mitra internasional," papar Retno.
(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading