Duh, PSBB Berpotensi Bikin Harga Bahan Pokok Meroket

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
21 April 2020 14:44
Polisi helm Corona (Muhajir Arifin/detikNews)
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah daerah sudah menerapkan skema Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Di antaranya Jabodetabek kompak melaksanakan, disusul Bandung Raya hingga Kota Tegal, termasuk saat ini pembahasan masih alot terjadi di Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Karawang. 

Dikhawatirkan, skema ini bisa menghambat distribusi kebutuhan bahan pokok, bahkan membuat harga kian melambung. Apalagi, ada pengalaman potensi distribusi yang terhambat di beberapa wilayah. Misalnya kota Tegal yang menutup akses di sejumlah jalan penting di wilayah pusat kota, padahal belum ada ketentuan PSBB.

"Kemungkinan (harga naik) ada, walau data terakhir belum kelihatan. Inflasi juga masih sekitar 3%, di angka 2,96% lah jadi relatif terkendali. Tapi sekarang mendekati Ramadhan yang membuat permintaan meningkat. Walau nggak sedrastis tahun lalu, tapi tetap ada peningkatan," kata Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listyanto kepada CNBC Indonesia, Selasa (21/4).




Potensi meningkatnya harga bahan pokok akibat terbatasnya alur distribusi barang memang perlu dicermati. Eko menilai skema PSBB akan membuat sejumlah wilayah menjadi lebih sepi dari biasanya. Padahal, itu menjadi jalur distribusi barang untuk melintas.

Hal seperti itu dikhawatirkan membuat para distributor berpikir dua kali untuk melintasinya demi alasan keamanan. Sementara bahan pokok sendiri memang diperlukan masyarakat.

"Ada potensi keterlambatan distribusi ke satu wilayah. Ini juga bisa menjadi penyebab meningkatnya harga bahan pokok," ungkap Eko.

Solusinya, pihak aparat keamanan perlu bertindak cepat dalam membantu proses keamanan distribusi bahan baku dari satu wilayah ke wilayah lain.

"Dalam distribusi bahan pokok bagusnya ada pengawal polisi. Bagus juga untuk bisa barang sampe di lokasi tujuan. Misal mereka takut kriminal karena malam hari situasi sepi. harusnya ada layanan gitu," sebut Eko.

Dirut Perum Bulog Budi Waseso menilai kenaikan harga bukan hanya disebabkan momen bulan Ramadhan, melainkan juga masa pandemi virus korona.

Ia mencontohkan pada alur distribusi pangan. Kebijakan yang dilakukan sejumlah kepala daerah dalam menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) juga menjadi salah satu faktor yang punya andil.

"Penyaluran dan penjualan, terdiri atas penjualan distributor yang menurun akibat tingginya biaya angkutan dan tenaga kerja," kata pria yang biasa disapa Buwas ini.

TPID Harus Bergerak Kendalikan Inflasi

Eko menyebut masing-masing daerah bisa memaksimalkan peran Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang terdiri dari kepala pimpinan daerah serta unsur pejabat lain, termasuk diantaranya dari aparat keamanan.

Keterlibatan aparat dalam proses pengendalian harga sangat diharapkan. Di antaranya berperan dalam membuka indikasi penimbunan yang membuat harga melonjak, termasuk mengamankan jalur distribusi pangan antar wilayah.

"Dalam distribusi bahan pokok bagusnya ada pengawal polisi. Bagus juga untuk bisa barang sampe di lokasi tujuan. Misal mereka takut kriminal karena malam hari situasi sepi. Harusnya ada layanan gitu," sebut Eko.

Sayangnya, keberadaan TPID di masing-masing daerah tidak sama kinerja. Eko menilai ada yang bekerja cukup efektif maupun tidak. Kebanyakan TPID yang bekerja baik didukung oleh alokasi APBD yang mumpuni untuk mengendalikan efektivitas harga.

"Best practice saya temukan di beberapa Kabupaten yang ada kantor BI. Mereka lebih intens karena BI concern sebagai ke pengawas inflasi juga kan," sebut Eko.

Melonjaknya harga kebutuhan bahan pokok di masyarakat juga jadi perhatian Presiden Joko Widodo. Ia menilai ada ketidakberesan yang terjadi di lapangan. Karena masih ada sejumlah komoditas pangan yang mengalami kenaikan seperti daging sapi, cabai rawit, cabai merah, bawang merah, bawang putih, gula. Namun, bukan berarti tidak ada komoditas yang mengalami penurunan.

""Saya enggak tahu ini dari kementerian perdagangan apa sudah melihat lapangannya bahwa ini belum bergerak," kata Jokowi, Selasa (21/4).

[Gambas:Video CNBC]




(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading