Internasional

Cerita Trump Setop Data WHO dan Jeritan Warga Global

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
16 April 2020 09:19
Kantor WHO. (Dok: WHO)
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menangguhkan pendanaan untukĀ Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (14/4/2020). Trump mengatakan WHO melakukan kesalahan karena mendorong informasi yang salah mengenai virus corona (COVID-19).

Namun sesaat setelah mengumumkan pembekuan pendanaan WHO, ia malah banjir "kutukan" dari warga. Trump dianggap sama saja membahayakan nyawa rakyat AS di tengah pandemi ini.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres angkat suara soal keputusan Trump ini. "Ini bukan waktunya untuk menghentikan sumber dana untuk operasi WHO atau organisasi kemanusiaan lainnya yang berperang melawan virus," ujarnya seperti dilansir dari Reuters, Rabu (15/4/2020).


Selain itu, tindakan Trump ini juga menimbulkan kekhawatiran dari berbagai negara, salah satunya dari China dan Inggris.

Mendengar hal ini, China langsung mendesak AS untuk memenuhi kewajibannya kepada WHO. Juru bicara kementerian luar negeri, Zhao Lijian mengatakan pandemi virus corona berada pada tahap kritis dan keputusan AS tersebut akan mempengaruhi semua negara.

Selain China, Pemerintah Inggris meyakini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memiliki peran penting dalam penanganan pandemi ini. Oleh karena itu, Inggris tidak akan meniru langkah Trump yang menghentikan pendanaan kepada organisasi PBB tersebut.

"Posisi kami adalah Inggris tidak memiliki rencana untuk menghentikan pendanaan terhadap WHO yang memiliki peran penting dalam respons kesehatan skala global," ujar Juru Bicara PM Inggris, Rabu (15/4/2020) waktu setempat, seperti dilansir CNN International.

"COVID-19 adalah tantangan global dan penting untuk semua negara bekerja sama mengatasi ancaman ini. Basis kontribusi kami kepada WHO sejalan dengan kebutuhan WHO dan tidak didasarkan pada pendanaan negara lain."

Pada awal pekan ini, Inggris mengumumkan akan meningkatkan pendanaan kepada WHO sebesar 65 juta pounds atau setara US$ 81 juta.

Sebagai informasi, Amerika Serikat merupakan donor terbesar bagi organisasi tersebut. Pada 2019, AS menyumbang lebih dari US$ 400 juta kepada WHO. Anggaran WHO pada 2018-2019 sendiri berjumlah sekitar US$ 6 miliar.

WHO Angkat Bicara

Sementara itu, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyesali keputusan Trump untuk menangguhkan pendanaan kepada WHO.

"Kami menyesalkan keputusan presiden Amerika Serikat untuk memerintahkan penghentian pendanaan untuk WHO," ujar Tedros pada Rabu (15/4/2020).

Selain itu, Tedros juga menanggapi soal tuduhan Trump mengenai WHO yang gagal dalam memberikan informasi mengenai pandemi ini secara tepat dan transparan.

"Pada waktunya, kinerja WHO dalam menangani pandemi ini akan ditinjau oleh negara-negara anggota WHO dan badan independen yang ada untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas," katanya.

"WHO sedang meninjau dampak pada pekerjaan kami dari setiap penarikan pendanaan A.S. dan kami akan bekerja dengan mitra untuk mengisi setiap kesenjangan keuangan yang kami hadapi dan untuk memastikan pekerjaan kami terus tanpa gangguan."

Pakar darurat WHO, Mike Ryan juga angkat bicara mengenai pemberitahuan pada awal wabah muncul. Ryan mengatakan bahwa WHO telah memberitahu semua 194 negara anggota pada 5 Januari tentang kasus pneumonia yang belum diketahui asalnya.

"Ketika WHO mengeluarkan panduan pertamanya ke negara-negara, sangat jelas bahwa tindakan pencegahan pernapasan harus diambil dalam menangani pasien dengan penyakit ini. Mereka harus berhati-hati dalam hal tindakan pencegahan mereka dalam mengambil sampel, karena ada risiko bahwa penyakit dapat menyebar dari orang ke orang," papar Ryan.

Mengenai pembatasan perjalanan, Ryan mengatakan itu adalah hak kedaulatan tiap negara. Satu-satunya peran WHO adalah untuk menginformasikan hal-hal yang berhubungan dengan pandemi tersebut.

Kini, kasus pasien positif corona secara global sudah mencapai 2.081.763 kasus. Sedangkan angka kematian 134.508 kasus, dengan pasien sembuh hanya mencapai 509.880 kasus per Kamis (16/5/2020), menurut data Worldometers.

[Gambas:Video CNBC]






(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading