Dampak Covid-19

Proyek Properti Mulai Mandek, Pengembang Mulai Berjatuhan?

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
06 April 2020 08:33
Industri properti disebut-sebut menjadi salah satu yang paling terkena dampak dari wabah virus corona (COVID-19).
Jakarta, CNBC IndonesiaIndustri properti disebut-sebut menjadi salah satu yang paling terkena dampak dari wabah virus corona (COVID-19). Bukan hanya penjualan yang diperkirakan mandek, namun juga adanya risiko kredit macet dari para debitur.

Risiko ancaman itu disampaikan Ketua Dewan Pengurus Daerah REI DKI Jakarta, Arvin F. Iskandar. Sektor industri realestat di DKI Jakarta terkena dampak buruk wabah virus corona.

"Tingkat penjualan drop, sementara biaya yang harus dikeluarkan tetap," ujarnya kepada CNBC Indonesia.


Dia menyebut, saat ini terjadi penurunan secara signifikan omset dan volume penjualan atau serapan pasar atas produk properti yang dijual. Hal itu jelas akan berdampak pada menurunnya kemampuan membayar pengembang terhadap bank atas kewajiban utang.

Ia menegaskan, hampir semua progres proyek realestat di DKI Jakarta ikut terpengaruh proses pembangunannya. Khususnya yang menggunakan material atau bahan baku yang berasal dari negara-negara terdampak Corona.

Pengembang kesulitan mendatangkan material dan bahan baku karena negara produsennya juga terdampak. Namun biaya operasional dan bunga pinjaman tetap harus dibayarkan.

Mantan Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Soelaeman Soemawinata mengistilahkan kondisi dunia properti yang sedang lesu semakin parah saat ada wabah corona.

"Betul ada potensi kredit macet, ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga, kejedot pintu," katanya.

Tidak ketinggalan, pemain besar industri properti juga memiliki risiko yang sama. Emiten properti Grup Ciputra melalui PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dan PT Intiland Tbk (DILD) mempertimbangkan proyek properti yang sedang berjalan.

Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development Tbk (DILD), Theresia Rustandi menyatakan, perseroan terus mencermati dan mengikuti perkembangan situasi darurat akibat pandemi COVID-19.

"Kami terus berkoordinasi dengan intensif bersama pihak-pihak terkait termasuk kontraktor untuk secara bersama-sama mencari solusi terbaik mengenai pengembangan konstruksi proyek," terang Theresia, saat dihubungi CNBC Indonesia, beberapa waktu lalu.

Namun, kata Theresia, akibat dampak dari wabah Corona, perseroan masih mengkaji mengenai kemungkinan pemangkasan target pra penjualan (marketing sales) yang ditetapkan sejak awal tahun.

Hal senada juga dilakukan emiten properti Grup Ciputra. Pada tahun ini, pra penjualan atau marketing sales Ciputra diproyeksikan akan tumbuh 9% dari tahun menjadi Rp 6,7 triliun dari capaian tahun 2019 sebesar Rp 6,1 triliun.

Dari jumlah tersebut, sekitar 53% dikontribusi dari segmen Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang memanfaatkan skema LTV.

Head of Investor Relations & Corporate Finance Ciputra Development, Aditya Ciputra Sastrawinata menjelaskan, katalis positif yang akan mendorong peningkatan penjualan antara lain segmen pasar pembeli rumah pertama atau end user, terutama perumahan dengan harga di bawah Rp 2 miliar yang terus mengalami peningkatan permintaan setiap tahunnya.

"Kita fokus rumah itu harganya di bawah 2 miliar dan tipenya juga tipe perumahan, karena kami merasa market perumahan jauh lebih kuat dibandingkan dengan market apartemen," kata dia menjelaskan.


[Gambas:Video CNBC]





(fer/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading