Internasional

Gandeng NATO, Erdogan Ancam Serangan Baru ke Suriah?

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
10 March 2020 12:05
Presiden Turki mengancam akan mengambil tindakan. Namun, jika gencatan senjata dilanggar oleh Suriah yang didukung militer Rusia.
Jakarta, CNBC Indonesia - Hanya tiga hari setelah gencatan senjata dengan Rusia-Suriah, Presiden TurkiĀ Recep Tayyip Erdogan mengancam akan mengambil tindakan sepihak jika perjanjian dilanggar salah satu pihak.

Erdogan memperingatkan kedua lawannya di Idlib itu bahwa jika janji-janji yang dibuat mengenai gencatan senjata tidak dilakukan, Turki berhak untuk membersihkan daerah itu dengan menggunakan metode-nya sendiri.




Bahkan Ankara telah meminta bantuan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk meningkatkan penjagaan di perbatasan Suriah.

"[Kami telah meminta] bantuan NATO tambahan di Suriah, untuk pertahanan perbatasan dengan Suriah, dan sehubungan dengan tantangan migrasi," kata Erdogan bersama dengan Kepala NATO Jens Stoltenberg pada Senin (9/3/2020), dikutip dari Sputnik News.

Turki pun menekankan bahwa mereka mencari dukungan konkrit atas apa yang terjadi di Suriah Barat Laut. Turki mengklaim sebagai satunya kekuatan NATO yang bisa melawan ancaman yang berasal dari negeri Bashar al-Assad.

"Situasi di Suriah mengancam Eropa (dengan arus pengungsi). Tidak ada negara di Eropa memiliki hak untuk melihat dengan acuh tak acuh pada drama kemanusiaan di Suriah," kata Erdogan.



Sementara itu, militer Rusia dikabarkan kembali berpatroli di perbatasan Suriah dan Turki. Bahkan pesawat tempur Rusia dikatakan kerap berpatroli di beberapa rute di kawasan tersebut.

"Militer Rusia kini masih terus melakukan patroli di sejumlah rute ... di Aleppo ... di Raqqah ... di Hasakah," tegas Kepala Pertahanan Rusia untuk Rekonsiliasi Suriah, Oleg Zhuravlev, dilansir dari laman yang sama Minggu. Ia menyinyalir ini merupakan bagian dari perjanjian gencatan senjata.

Dalam perang Suriah, Rusia dan Turki mendukung kelompok yang berbeda. Di mana Rusia pro rezim Assad dan Turki pro kelompok anti pemerintah, Front Pembebasan Nasional.

Perang Suriah sudah terjadi dari 2011. Di 2018, perjanjian damai dibuat di Sochi, tapi dilanggar Suriah di Desember 2019.

Suriah kembali menggencarkan serangan dengan bantuan Rusia. Padahal di perjanjian itu, Turki bertanggung jawab pada Idlib dengan membangun belasan posko pemantauan.

Pada awal Maret ini, Erdogan bertemu dengan Presiden Valdimir Putin di Moskow, Rusia. Keduanya sepakat gencatan senjata.

Perang Suriah membawa masalah bagi Eropa. Di mana ratusan ribu orang kini mencoba menerobos Yunani untuk mengungsi mencari keamanan di Benua Biru itu.

Rusia Patroli Militer, Erdogan Ancam Serangan Jika SuriahFoto: Migran Suriah berjalan menuju perbatasan Yunani dekat gerbang perbatasan Pazarkule di Edirne, Turki. (AP/Emrah Gurel)


[Gambas:Video CNBC]






(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading