Internasional

Ada RI & Natuna, Ini Tudingan AS Soal China Bohong

News - Thea Fathanah Abrar, CNBC Indonesia
17 February 2020 13:03
Ada RI & Natuna, Ini Tudingan AS Soal China Bohong
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam Konferensi Keamanan Munich di Jerman yang digelar Sabtu (16/2/2020), Amerika Serikat melalui Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan Menteri Pertahanan Mark Esper menuding China melakukan kebohongan.

Sebagaimana ditulis CNBC Internasional kebohongan itu salah satunya menyangkut Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) dan perbatasan maritim China dengan sejumlah negara Asia Tenggara.





"China melanggar zona ekonomi eksklusif (ZEE) Vietnam, Filipina, dan Indonesia. Mereka memiliki pertikaian perbatasan atau maritim dengan hampir setiap negara yang berbatasan dengannya," kata Pompeo dalam pidatonya.

Senada dengan Pompeo, ini juga dikatakan Esper. "Sangat penting bahwa kita sebagai komunitas internasional sadar akan tantangan yang disajikan oleh manipulasi China terhadap tatanan berbasis aturan internasional yang sudah lama ada," ujar Esper.

Memang, beberapa waktu lalu, hubungan antara Indonesia dan China sempat memanas. Penyebabnya karena Kapal Coast Guard China memasuki teritorial laut Indonesia tanpa izin di wilayah perairan Natuna.

Dengan masuknya kapal pencari ikan dan coast guard di kawasan perairan Natuna, artinya China melakukan pelanggaran ZEE Indonesia. Berdasarkan Konvensi United Nations Convention on The Law of The Sea (UNCLOS) 1982, perairan Natuna di Kepulauan Riau masuk RI.

Bukan cuma RI, soal tumpang tindih laut ini juga terjadi dengan sejumlah negara lain. Di antaranya Vietnam, Filipina dan juga Malaysia. Namun RI dan China berkomitmen menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin.


Sementara itu, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi tentu menolak tudingan tersebut. Wang mengatakan bahwa kritik AS terhadap Beijing adalah kebohongan.

Di sisi lain, Wang juga menyalahkan Washington atas hubungan yang kacau antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut.

"Akar penyebab semua masalah dan masalah ini adalah bahwa AS tidak ingin melihat perkembangan dan peremajaan China yang cepat," kata Wang dalam Konferensi Keamanan Munich.

"Apalagi mereka ingin menerima keberhasilan negara sosialis, tetapi itu tidak adil, China memiliki hak untuk berkembang," lanjut Wang, menambahkan jika dorongan China menuju modernisasi adalah tren sejarah yang tidak terhindarkan oleh apapun, sebab hal ini mewakili arah kemajuan manusia.


[Gambas:Video CNBC]





(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading