Demo Berkepanjangan, China Copot Direktur Urusan Hong Kong

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
13 February 2020 19:23
Akibat protes yang tidak kunjung usai sejak Juni 2019, China mencopot direktur Kantor Urusan Hongkong dan Macau (HKMAO).
Jakarta, CNBC Indonesia - Akibat protes yang tidak kunjung usai sejak Juni 2019, China mencopot direktur Kantor Urusan Hong Kong dan Macau (HKMAO). Kabar ini diumumkan oleh Dewan Negara pada Kamis (13/2/2020) waktu setempat.

Kementerian Sumber Daya Manusia China mengumumkan bahwa Xia Baolong akan menggantikan posisi Zhang Xiao Ming sebagai direktur Kantor Urusan Hongkong dan Macau yang baru.


Pencopotan Zhang mengikuti langkah Beijing pada Januari 2020 untuk menggantikan kepala kantor penghubung di Hongkong. Namun menurut kementerian, Zhang akan tetap bersama HKMAO sebagai wakil direktur yang bertanggung jawab atas operasi harian.


Xia Baolong sendiri merupakan wakil ketua Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China berusia 67 tahun, yang pernah menjabat sebagai wakil Presiden Tiongkok Xi Jinping ketika ia menjadi sekretaris Partai Komunis di provinsi Zhejiang dari 2003 hingga 2007.

Menurut Jean-Pierre Cabestan, seorang profesor ilmu politik di Hong Kong Baptist University, perubahan personel ini ditujukan untuk meningkatkan koordinasi antara Beijing dan Hong Kong, serta memberikan lebih banyak dukungan kepada Kamp pro-Beijing di Dewan Legislatif Hong Kong.

"(Xi Jinping) menginginkan darah segar, orang-orang yang dapat dia percayai, yang akan membawa Hong Kong lebih dekat ke China," katanya, seperti yang diberitakan oleh AFP.

Dewan Negara menambahkan bahwa Luo Huining, kepala kantor penghubung Beijing di Hong Kong, dan Fu Zi Ying, yang mengepalai kantor penghubung Makau, juga akan diberikan peran wakil direktur sambil tetap mempertahankan posisi mereka saat ini.

Hingga kini, Hong Kong masih penuh dengan demo yang dilakukan oleh jutaan warga. Demo tersebut terjadi sebagai protes atas proposal RUU ekstradisi yang akan memungkinkan tersangka dikirim ke China daratan untuk diadili.

Namun, gerakan demo yang berlarut-larut ini kemudian berubah menjadi tuntutan kebebasan demokratis yang lebih besar dan mempertanyakan akuntabilitas polisi Hong Kong yang sudah menelan banyak korban jiwa.

Selain masalah tersebut, dalam beberapa hari terakhir, para pemimpin Hong Kong juga harus menghadapi kritik juga karena kekurangan masker pernapasan dan sumber daya dalam penanganan epidemi virus corona.

[Gambas:Video CNBC]


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading