Pak Jokowi, Batu Bara Bisa Bantu Target Energi Hijau RI Lho!

News - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
12 February 2020 18:31
Batu bara yang melimpah justru bisa membantu Indonesia untuk mencapai porsi energi baru terbarukan yang dipatok 23% dari bauran energi.

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah kekhawatiran melesetnya target porsi energi baru dan terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional, energi berbasis fosil yang melimpah di Indonesia yakni batu bara justru bisa menjadi solusi.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Minera (ESDM) menyebutkan pemanfaatan EBT saat ini baru 12,4% dari total bauran energi nasional. Angka ini masih jauh dari target yang dipatok dalam Rancangan Umum Energi Nasional (RUEN) sebesar 23% pada tahun 2025

Jika tidak ada perubahan berarti dalam regulasi EBT, berupa insentif dan stimulus untuk menggenjot pemanfaatan energi ramah lingkungan, berbagai kalangan meragukan target tersebut bakal tercapai sesuai target.


Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) jauh-jauh hari mengingatkan risiko melesetnya target itu. Demikian juga dengan Asosiasi Produsen Listrik Bioenergi Indonesia. Bahkan Ignatius Jonan ketika menjadi Menteri ESDM secara terbuka mengakui target 23% itu bakal sulit dicapai.


Target pemakaian EBT sebesar 23% dari bauran energi itu merupakan konsekuensi dari ratifikasi Kesepakatan Paris (Paris Agreement) pada 2016 terkait pencegahan perubahan iklim. Tak pelak Indonesia menggenjot pemanfaatan energi non-fosil seperti sel surya (solar photovoltaic/PV), tenaga bayu, air, biomassa, hingga gelombang laut dalam bauran energinya.

Meski potensi listrik berbasis non-fosil di Indonesia besar, mencapai 441.700 megawatt (MW) atau nyaris 8 kali lipat dari produksi listrik nasional saat ini 58.000 MW, pengembangannya masih terbatas karena mahalnya investasi dan minimnya anggaran insentif energi tersebut.

Dengan sulitnya pencapaian target porsi EBT sebesar 23%, solusi justru bisa muncul dari energi fosil Indonesia yakni batu bara. Meski dituding sebagai biang pemanasan global, pasir hitam ini justru menawarkan solusi kombo untuk tiga persoalan di Indonesia sekaligus: pengendalian pemanasan global, menjaga kedaulatan energi, dan membangun industri bernilai tambah.

Jika kita melihat sejarah, Indonesia menuliskan kemauan politiknya yang pertama untuk mengembangkan energi hijau pada tahun 2007, dengan diloloskannya payung hukum tertingginya, yakni UU Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi.

Para pemangku jabatan di negeri ini paham benar bahwa menggenjot energi hijau dengan mengesampingkan energi fosil yang lebih murah dan telah lebih dulu dikomersialisasikan merupakan sebuah langkah utopis. Keduanya harus berjalan beriringan mengingat energi terbarukan memerlukan dukungan subsidi yang bersumber dari penerimaan pajak yang sedikit-banyak berasal dari sektor riil yang digerakkan oleh energi fosil.

Tidak heran, tidak ada istilah 'energi terbarukan' dalam UU tersebut sebagaimana di negara-negara lain, melainkan 'energi baru dan terbaruan (EBT)'. UU Energi menyebutkan "energi baru adalah energi yang berasal dari sumber-sumber energi yang dapat dihasilkan oleh teknologi baru baik yang berasal dari sumber energi terbarukan maupun sumber energi tak terbarukan".

Lebih lugas, disebutkan bahwa energi baru meliputi nuklir, hidrogen, gas metana batu bara (coal bed methane), batu bara tercairkan (liquified coal), dan batu bara tergaskan (gasified coal). Pengertian ini juga dipertahankan di Rancangan Undang-Undang (RUU) Energi Baru dan Terbarukan yang tengah digodok DPR.

Dengan kata lain, jika negeri ini mampu mengembangkan energi fosil (batu bara) menjadi produk ramah lingkungan dengan emisi karbon rendah, maka keluarannya bisa dihitung sebagai bagian dari produk EBT sehingga membantu mencapai target 23% tersebut.
Energi Baru: Jalan Tengah Kedaulatan Energi
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading