Pangeran Iran Muncul, Sebut Rezim Khamenei Segera Berakhir

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
16 January 2020 09:45
Pangeran Iran Muncul, Sebut Rezim Khamenei Segera Berakhir Foto: Demo Iran (AP Photo/Ebrahim Noroozi)
Jakarta, CNBC Indonesia - Pangeran Iran Reza Pahlavi muncul pada hari Rabu (15/1/2020), menyampaikan komentarnya di tengah perang yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

Ahli waris monarki yang digulingkan itu memperkirakan bahwa rezim ulama yang dipimpin Ayatollah Ali Khamenei akan runtuh dalam beberapa bulan lagi. Ia juga mendesak negara-negara Barat untuk tidak bernegosiasi dengan mereka.

"Hanya masalah waktu baginya untuk mencapai klimaks terakhir. Saya pikir kita berada dalam mode itu," kata mantan pangeran mahkota itu pada konferensi pers di Washington, tempat pengasingan yang ia tinggali, sebagaimana dikutip dari CNBC International.

Ia menyebut, demo rusuh yang meletus di Iran pada bulan November lalu akibat menentang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), serta demo baru-baru ini yang meletus akibat Iran yang salah tembak pesawat Boeing Ukraina saat menyerang Amerika, disebutnya akan membuat rezim Iran menghadapi hal yang sama seperti yang terjadi pada ayahnya pada awal 1979.


"Ini adalah minggu atau bulan sebelum keruntuhan total, tidak berbeda dengan tiga bulan terakhir pada 1978 sebelum revolusi," katanya.

Lebih lanjut, dalam pidato di Institut Hudson ahli waris Peacock Throne itu juga menyampaikan dukungan untuk "tekanan maksimum" Presiden AS Donald Trump. Kampanye itu merupakan cara Trump untuk berusaha mengisolasi rezim Iran melalui penerapan sanksi berat.

"Sudah lama mengakui bahwa ini bukan rezim normal dan (rezim itu) tidak akan mengubah perilakunya," kata Pahlavi.

"Rekan sebangsa saya mengerti bahwa rezim ini tidak dapat direformasi dan harus disingkirkan."

"Rakyat Iran berharap dunia menunjukkan lebih dari sekadar dukungan moral. Mereka berharap tidak akan ditindas atas nama diplomasi dan negosiasi." lanjutnya.

Pernyataan Pahlavi itu diungkapkan pada saat hubungan AS-Iran sedang memanas. Hubungan kedua negara menegang setelah Trump memerintahkan serangan udara ke Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari lalu.

Dalam serangan itu beberapa Orang penting Iran termasuk pimpinan pasukan Quds Iran Jenderal Qassem Soleimani tewas. Akibatnya, Iran mengancam membalas AS dan telah melakukan beberapa kali serangan rudal ke pangkalan militer AS di Irak.

[Gambas:Video CNBC]



Saat serangan balasan pada Rabu (8/1/2020), dua rudal Iran telah secara tidak sengaja menembak jatuh pesawat penumpang Boeing 737-800 milik Ukraine International Airlines. Pesawat yang membawa 176 penumpang, yang sebagian besar warga Iran dan Kanada itu hancur berkeping-keping akibat tembakan.

Akibat hal ini, rakyat Iran menggelar demo selama beberapa hari terakhir. Rakyat menuntut Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei untuk mundur dan meninggalkan negara. Sebagian bahkan menuntut Khamenei untuk dihukum mati. (hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading