Update Polling CNBC Indonesia

Aduh, Neraca Dagang Desember Diramal Tekor US$ 456,5 Juta

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
14 January 2020 06:35
Perang Dagang AS-China Jadi Gara-gara Ilustrasi Aktivitas di Pelabuhan (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Perang Dagang AS-China Jadi Gara-gara

Apa mau dikata, memang sulit untuk berharap kinerja perdagangan internasional bisa membaik pada 2019. Ekspor tidak bisa diandalkan seiring penurunan harga komoditas andalan Indonesia.

Bank Indonesia (BI) mencatat indeks harga komoditas ekspor turun 3,7% YoY pada 2019. Lebih dalam dibandingkan koreksi pada 2018 yaitu 2,8% YoY.

Berikut gambaran perubahan indeks harga komoditas ekspor Indonesia secara YoY:


Komoditas

2016

2017

2018

2019 (s/d 11 Desember)

Tembaga

-10.5

27.1

6.7

-8.2

Batu Bara

6.8

48.2

2.5

-8.9

CPO

21.3

5.7

-19.2

-5.5

Karet

-2.2

28.1

-16.8

12.5

Nikel

-15.4

8.9

27.8

5.7

Timah

13.1

13.1

0.5

-7.1

Aluminium

-3.5

22.9

7.4

-14.3

Kopi

4.3

-2.9

-15.4

-9.2

Lainnya

1

6.8

1.2

-0.7

Indeks Harga Komoditas Indonesia

5.4

21.7

-2.8

-3.7

Tinjauan Kebijakan Moneter BI edisi Desember 2019

Baca: Duh Sedih Banget! Harga Aluminium Hingga Batu Bara RI Boncos

Penyebabnya apa lagi kalau bukan perang dagang Amerika Serikat (AS) vs China. Selama 18 bulan terakhir, dua kekuatan ekonomi terbesar di planet Bumi tersebut saling hambat dengan 'berbalas pantun' mengenakan bea masuk.

Selama masa perang dagang, AS mengenakan bea masuk terhadap importasi produk China senilai US$ 550 miliar. Ini dibalas oleh China dengan membebankan bea masuk terhadap impor produk AS senilai US$ 185 miliar.

Saat barang China sulit masuk ke AS gara-gara ada bea masuk dan begitu pula sebaliknya, maka dunia usaha di kedua negara tentu akan mengurangi produksi. Sepanjang 2019 terlihat bahwa pertumbuhan produksi industri di AS dan China terus melambat, bahkan AS sudah masuk ke zona kontraksi.



Nah, ketika pengusaha di AS dan China mengurangi produksi maka permintaan bahan baku dan barang modal tentu menurun. Tentu saja termasuk permintaan dari negara lain. Inilah yang disebut dengan rantai pasok.

Baca: Bunga Acuan Turun Pun Kalau Permintaan Lesu Mau Apa?

Dengan status sebagai dua pasar terbesar di dunia, penurunan permintaan di AS dan China tentu menyebabkan ekspor global ikut seret. Jadi tidak cuma di Indonesia, perdagangan dunia juga tumbuh negatif pada 2019.

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memperkirakan pertumbuhan perdagangan global pada 2019 hanya 1,2%. Jauh memburuk ketimbang 2018 yang mampu tumbuh 3%.

"Proyeksi yang lebih buruk ini memang mengkhawatirkan, tetapi bukan tidak terduga. Konflik perdagangan meningkatkan kadar ketidakpastian sehingga membuat dunia usaha mengurangi produksi. Ini tentunya bisa berdampak terhadap kehidupan masyarakat, karena penciptaan lapangan kerja akan terpukul. Menyelesaikan perselisihan dagang adalah kunci untuk menghindari risiko tersebut," tegas Roberto Azevedo, Direktur Jenderal WTO, sebagaimana dikutip dari siaran pers.

Baca: Makin Suram, Perdagangan Dunia Cuma Bakal Tumbuh 1,2% di 2019


Perang Dagang Sudah Hampir Berakhir?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading