Industri Doyan Garam Impor: Lokal Mahal & Kualitas Rendah!

News - Efrem Siregar, CNBC Indonesia
13 January 2020 16:25
Impor garam menjadi pilihan bagi industri. Kenapa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Garam impor masih menjadi pilihan utama industri pengguna garam. Alasannya karena garam impor dianggap punya spesifikasi yang memenuhi kebutuhan industri dan harganya bersaing.

Ketua Umum Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) Tony Tanduk mengatakan kebutuhan garam industri pada 2020 sekitar 3,8 juta ton sampai 4 juta ton. Para industri pengguna garam masih mengutamakan garam impor untuk memenuhi kebutuhan produksi mereka.

"Yang dibutuhkan itu kualitas sama harga. Kalau lokal memenuhi ya lokal tapi sementara ini masih diimpor," kata Tony kepada CNBC Indonesia, Senin (13/1


Ia mengatakan harga garam impor jauh di bawah harga garam lokal. Sedangkan kualitasnya memenuhi kebutuhan industri dengan spesifikasi NaCL di atas 97%. Sedangkan garam rakyat yang diproduksi di Indonesia hanya memiliki kandungan NaCl sebesar 81%-96%, 

"Beda cukup jauh, dari luar (impor) kan bisa Rp. 400/Kg ya, dalam negeri Rp500-600/kg," katanya.



Tony mengatakan persoalan garam lokal yang utama yang menjadi konsen industri bukan hanya harga, tapi kualitasnya. "Bukan itu (masalah harga) sebenarnya. Concern utama pada kualitas," katanya.

Menurutnya, bila harga garam lokal bersaing, kualitas bagus dan tersedia stoknya pasti akan diserap oleh industri. Hal ini menepis pernyataan Sekretaris Jenderal Aliansi Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (Sekjen A2PGRI) Faisal Badawi, yang sempat mengatakan bertambahnya alokasi garam impor pada tahun ini akan semakin memukul harga garam, karena stok berlimpah. Faisal memperkirakan akan ada kelebihan stok 2 juta ton garam petani.

"Melimpah dimana? Melimpah dimana? makanya perlu dicek di mana barangnya," tanya Tony.


[Gambas:Video CNBC]




(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading