Terpopuler Februari 2019

Penerbangan 2019: Tiket Melejit, Heboh Lion Bawa 3 Penumpang

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
31 December 2019 11:46
Penerbangan 2019: Tiket Melejit, Heboh Lion Bawa 3 Penumpang
Jakarta, CNBC Indonesia - Di awal tahun 2019 berbagai tantangan sudah dihadapi industri penerbangan. Mulai dari bagasi berbayar, harga tiket mahal, hingga kabar heboh maskapai berbiaya murah (low cost carrier) Lion Air yang cuma mengangkut 3 orang penumpang.

Kabar itu menyebut keterisian penumpang (load factor) 3 orang saja terjadi di rute Bandara Internasional Minangkabau, Padang, dengan tujuan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Kabar ini mulanya digembor-gemborkan oleh salah satu penumpang bernama Yustianto pada 8 Februari di Terminal 1 Soekarno-Hatta.

Lion Air angkat bicara perihal kabar tersebut. Corporate Communications Strategic Lion Air Danang Mandala Prihantoro menegaskan tingkat keterisian penumpang pada rute tersebut masih tinggi. Meski memasuki periode musim sepi (low season) di industri penerbangan dalam negeri.




"Dari keterangan yang dikutip oleh media dalam pemberitaan [soal angkut hanya 3 penumpang], pernyataan disebutkan oleh salah satu penumpang bernama Yustianto pada 8 Februari di Terminal 1 Soekarno-Hatta. Kami tegaskan bahwa informasi tersebut adalah tidak benar," ungkap Danang dalam keterangan resmi, Sabtu, (9/2/2019).

Danang menjelaskan Lion Air pada 8 Februari melayani tiga kali penerbangan berjadwal dari Padang menuju Soekarno-Hatta. Berdasarkan data, keterisian penumpangnya masih tinggi, yakni terdiri dari nomor JT-253 mengangkut 104 penumpang, JT-353 mengangkut 109 penumpang, dan JT-357 mengangkut 205 penumpang.

"Kami sudah melakukan koordinasi dan pengecekan bersama para pihak internal terkait. Lion Air menginformasikan bahwa tidak menemukan nama Yustianto dalam daftar penumpang atau manifest layanan penerbangan Lion Air dari Padang ke Soekarno-Hatta, pada 8 Februari itu," imbuhnya.

Kabar ini menjadi satu dari beberapa topik panas industri penerbangan di awal tahun 2019. Selain keterisian penumpang, isu lain yang dihadapi industri penerbangan adalah bagasi berbayar.

Menurut Danang pihaknya tidak akan mencabut kebijakan bagasi berbayar. Langkah itu berbeda dengan Citilink yang menunda penerapan bagasi berbayar setelah konsolidasi dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Lion Air mulai menerapkan kebijakan bagasi berbayar pada bulan Januari, disusul rencana yang sama oleh maskapai Citilink yang akan menerapkan kebijakan serupa pada awal Februari. Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) turun tangan memanggil Kementerian Perhubungan untuk membahas hal ini.

Setelah 4 jam rapat, Komisi V meminta Kemenhub untuk menunda pemberlakuan kebijakan bagasi berbayar hingga selesainya kajian ulang terhadap kebijakan tersebut. Pertimbangannya adalah kemampuan masyarakat serta kelangsungan industri penerbangan nasional.

Permintaan Komisi V ini dikabulkan oleh Citilink yang akhirnya menyetujui untuk melakukan penundaan penerapan bagasi berbayar. Sementara Lion Air tetap menerapkan kebijakan tersebut. Selain itu kabar lain yang semakin membuat penumpang resah adalah mahalnya tiket pesawat.

Beberapa pengguna mengeluhkan harga tiket pesawat yang melonjak hingga dua kali lipat awal tahun 2019.Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub pun memanggil Indonesia National Air Carriers Association (INACA) pada pertengahan bulan Januari mengkonfirmasi perihal tiket penerbangan yang dikeluhkan sangat mahal oleh pelanggan.

Hasilnya, Kemenhub menegaskan bahwa tarif maskapai yang berlaku masih sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 14 Tahun 2016 tentang Mekanisme Formulasi Perhitungan dan Penetapan Tarif Batas Atas dan Tarif Batas Bawah Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri, menurut siaran pers kementerian tanggal 11 Januari 2019.

INACA diperintahkan Kemenhub agar turut mengkomunikasikan kebijakan tarif kepada masyarakat. Sehingga masyarakat benar-benar memahami bahwa tarif yang diberlakukan masih dalam batas ketentuan yang ditetapkan pemerintah. Selang dua hari INACA mengumumkan keputusan menurunkan tarif tiket pesawat.

"Kita berkomitmen menurunkan harga tiket diikuti komitmen positif para stakeholder. Sebagai contoh kita akan share juga penurunan harga yang sudah kita lakukan," ujar Ketua INACA Ari Ashkara dalam konferensi pers di Jakarta, (13/01/2019).

Ari mengaku mendengarkan keluhan dari kedua belah pihak baik dari masyarakat terkait harga tiket dan para direktur untuk maskapai. "Sejak Jumat lalu kami sudah menurunkan tarif harga domestik khususnya Jakarta-Denpasar, Jakarta-Yogyakarta. Walau di tengah kesulitan maskapai nasional yang ada, kami lebih mendengar keluhan masyarakat. Intinya seperti itu," katanya.

Selain itu, pihaknya juga menyampaikan pesan agar Pertamina bisa menurunkan harga avtur di Jakarta. Karena menurut Ari komponen terbesar dalam hal tiket pesawat adalah bahan bakar dengan persentase 40%-50%.

Ibarat gayung bersambut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis formula harga jual avtur bagi pesawat udara awal Februari. Poin pentingnya adalah ditetapkannya batas atas margin sebesar 10% dari harga dasar.

"Dalam menetapkan harga jual eceran jenis bahan bakar minyak umum jenis avtur ditetapkan batas atas margin sebesar 10%," tulis aturan yang diteken oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan pada 1 Februari 2019.

Sementara Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menerangkan, melalui formula ini harga jual avtur memiliki batas atas, sehingga kompetitif antara harga dengan apa yang diimpor Pertamina.

Arcandra juga menampik, formula harga tersebut dibuat karena adanya isu tiket pesawat yang mahal, melainkan merupakan satu rangkaian dari formula harga produk BBM.

External Communications Manager PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita mengatakan secara prinsip pihaknya mematuhi ketentuan serta aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Komitmen ini juga menjadi bukti nyata Pertamina dalam mendukung pertumbuhan industri penerbangan, khususnya di dalam negeri.

"Pertamina di bidang aviasi selalu mengusahakan harga kompetitif terbukti dari realisasi harga jual yang secara historis selalu berada di bawah batas atas. Kami cukup kompetitif," ujar Arya kepada CNBC Indonesia saat dihubungi Jumat (8/2/2018).

Di lain pihak, Ketua INACA Ari Askhara justru mengaku belum mengetahui adanya formula harga avtur tersebut, dan akan mempelajarinya terlebih dahulu."Saya belum tahu, nanti akan saya pelajari dulu lebih lanjut," ujar Ari saat dihubungi CNBC Indonesia.

Sebagai informasi, dalam Kepmen tersebut ditulis bahwa formula ini akan digunakan oleh badan usaha untuk menetapkan harga jual eceran avtur kepada maskapai penerbangan berbadan hukum Indonesia di titik serah.

Pada 2019, juga ada upaya pemerintah menekan harga tiket pesawat dengan tarif diskon pada waktu-waktu tertentu, tapi kebijakan ini pada akhirnya tak jelas kabarnya hingga tutup tahun 2019.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading