Bisakah Proyek Gasifikasi Batu Bara Mulai di 2020?

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
12 December 2019 19:08
Bisakah Proyek Gasifikasi Batu Bara Mulai di 2020?
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo berkali-kali menekankan soal potensi gasifikasi batu bara yang bisa membantu Indonesia menekan defisit transaksi berjalan. Kapan bisa terlaksana?

Program ini dijalankan oleh dua BUMN yakni PT Pertamina (Persero) dan PT Bukit Asam (PTBA).

PT. Pertamina (Persero) menjelaskan sampai saat ini masih mempertimbangkan lokasi untuk proyek gasifikasi batu bara dengan PT. Bukit Asam Tbk (PTBA).


Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan pihaknya saat ini masih mempertimbangkan dua lokasi untuk gasifikasi yakni di Peranap dan Tanjung Enim.

"Kita lakukan di dua tempat Peranap dan Tanjung Enim sejak awal dua lokasi. Belum kita putuskan mana yang paling baik,. Feasibility study (FS) sudah selesai, lagi itungan angka" terangnya di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Kamis, (12/12/2019).



Nicke memastikan proyek gasifikasi ini akan terus berjalan bersama PTBA. Pihaknya juga sudah menghitung nilai keekonomian dari proyek ini. "Produk pertamina kan dimethyl ether (DME) kan buat subtitusi dari liquified petroleum gas (LPG). Nah kita sudah berhitung di keekonomian," imbuh Nicke.

Pernyataan ini merespon pertanyaan dari berbagai pihak terkait pertanyaan keekonomian dari proyek gasifikasi batubara jadi DME yang dinilai bisa jadi subtitusi LPG. Proyek ini digadang bisa menutupi impor tersebut.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memperkirakan nilai investasi untuk pembangunan dua proyek hilirisasi batu bara yang akan digarapnya mencapai US$ 5,8 miliar (Rp 81,20 triliun, asumsi kurs Rp 14.000/US$). Nilai investasi tersebut akan dibagi oleh perusahaan bersama dengan partner kerjanya.

Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin mengatakan kedua proyek ini masih menjalani proses feasibility study sejauh ini sehingga nilai investasi keduannya masih berupa perkiraan.


Sebelumnya, Direktur Utama Pupuk Indonesia Aas Asikin Idat mengatakan pihaknya sudah melakukan study dari gas ke batubara. Sayangnya investasi yang dikeluarkan untuk gasifikasi sangat besar. Investasi yang besar menjadikan harga yang dihasilkan mahal.

"Diatas 8 dolar. Bisa sampai 11 dolar. Itu jadi gak ekonomis," terangnya di Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi VII DPR, Kamis, (5/12/2019).

Hal senada disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Djoko Siswanto. Menurutnya untuk skala uji coba lab gasifikasi batubara memang mungkin untuk dilakukan.

Namun saat akan ke skala komersial bisa mencapai US$ 14 per mmbtu. "Sehingga dinilai kurang ekonomis jadi pelaksanaannya tertunda," terangnya.

Sebagai informasi Pupuk Indonesia, Candra Asri, Pertamina, juga menjalin kerjasama dengan PTBA untuk hilirisasi batubara. Untuk pupuk Indonesia akan diproses sebagai bahan baku urea. 

(gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading