Internasional

Soal Jadi 'Mini China', Indonesia Menang dari Vietnam

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
13 November 2019 12:09
Soal Jadi 'Mini China', Indonesia Menang dari Vietnam
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang dagang berkepanjangan yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dengan China telah membawa dampak buruk bagi kedua negara.


Salah satu contohnya adalah banyaknya pabrik dan perusahaan yang memindahkan operasinya ke negara lain demi menghindari tarif yang telah diterapkan masing-masing negara terhadap satu sama lain.


Seperti diketahui, dua ekonomi terbesar di dunia itu telah saling menjatuhkan tarif impor hingga hingga ratusan miliar dolar AS dalam setahun terakhir. Hal itu tidak hanya memicu perlambatan ekonomi di kedua negara dan global, tetapi juga berakibat pada pendapatan dan laba yang diperoleh perusahaan yang beroperasi di negara-negara itu.


Oleh karenanya, tidak mengherankan jika negara-negara tetangga AS dan China banyak ketiban untung dari perang dagang mereka.

Misalnya saja Vietnam, yang merupakan tetangga China yang ada di Asia Tenggara. Menurut laporan beberapa ekonom dari bank investasi Jepang Nomura, Vietnam untung banyak dari perang dagang AS-China karena importir di AS dan China memilih membeli barang dari negara ini untuk menghindari bea masuk yang tinggi.

Itu dikarenakan produk Vietnam memiliki kemiripan yang sangat tinggi dengan China. Hal ini pun membuat Vietnam disebut-sebut akan bisa menggantikan China atau setidaknya mengisi peran Negeri Tirai Bambu dan menjadi 'mini China'.

Namun, menurut laporan Bloomberg Economics yang diterbitkan pada hari Selasa (12/11/2019), ketimbang Vietnam, Indonesia justru lebih mungkin untuk menjadi mini China. Laporan itu memeringkatkan Indonesia di posisi kedua, di bawah India. Sementara Vietnam di posisi ketiga.


Dalam membuat peringkat itu, Bloomberg Economics mempertimbangkan enam metrik untuk mengidentifikasi 10 negara berkembang yang bisa mendapatkan porsi lebih besar dari 'kue' manufaktur Asia. Beberapa aspek itu mulai dari peraturan ketenagakerjaan hingga bisnis.

Sayangnya, dalam laporan itu disebutkan bahwa Indonesia juga belum sanggup untuk benar-benar dapat menjadi mini China. Itu karena Indonesia memiliki infrastruktur yang buruk. Selain itu, Indonesia juga telah diabaikan banyak investor karena mengadopsi peraturan lokal yang rumit, seperti yang telah diakui Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada bulan September.

"Tidak ada ekonomi tunggal yang memiliki sarana untuk menggantikan China," tulis Chang Shu dan Justin Jimenez dalam laporan tersebut.

"Banyak yang memiliki keunggulan berbiaya rendah. Dengan pengecualian India, semua tidak memiliki skala China. Dan semua menghadapi tantangan pada aspek daya saing lainnya," tambahnya.

[Gambas:Video CNBC]




(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading