Ekonomi Indonesia 2014 dan 2019 Gak Jauh Beda, Benarkah?

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
24 October 2019 06:19
Ekonomi Indonesia 2014 dan 2019 Gak Jauh Beda, Benarkah?
Jakarta, CNBC Indonesia - Genap sudah Joko Widodo (Jokowi) menakhodai kapal besar bernama Indonesia selama 5 tahun. Pelantikan menteri hari ini, menandakan kabinet siap bekerja untuk membangun "Indonesia Maju" lima tahun ke depan.

Lebih dari 50% kursi menteri diisi oleh wajah-wajah baru seperti Founder dan Ex-CEO Go-Jek sampai Wishnutama sebagai pendiri NET TV. Walau banyak wajah baru yang menghiasi kabinet Jilid II Jokowi ini, tetapi kondisi ekonomi Indonesia tahun ini dengan 2014 punya kemiripan.


Lho kok bisa? Memangnya apa yang bikin kondisi ekonomi Indonesia 2019 mirip dengan tahun 2014?


Pertama dilihat dari tren pertumbuhan ekonomi, pada 2014, ekonomi Indonesia tumbuh melambat jadi 5% dari sebelumnya yang mencapai 5,56%. Tahun 2019 memang belum selesai, masih ada kurang lebih dua bulan terakhir.

Namun lembaga dunia seperti Wolrd Bank, dan IMF memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh di angka 5%. Kalau proyeksi tersebut benar maka ekonomi Indonesia tumbuh melambat dibandingkan tahun 2018.





Kalau dicermati lebih lanjut, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II lebih rendah dibanding dengan kuartal I. Fenomena ini terjadi baik di tahun 2014 maupun di tahun 2019. Ketika ekonomi dunia tumbuh dari 2,5% menjadi 2,84% pada 2012-2014, ekonomi Indonesia tumbuh melambat dari 6,03% menjadi 5%.

Lebih parah lagi ekonomi Indonesia tumbuh makin melambat jadi 4,88% di tahun berikutnya. Pada 2018 ekonomi dunia tumbuh tipis jadi 2,85%.

Ada kemiripan lain antara Indonesia tahun ini dengan Indonesia lima tahun lalu. Dari sisi transaksi berjalan, Indonesia mencatatkan defisit sebesar US$ 27,5 miliar atau setara dengan -3,1% terhadap PDB di tahun 2014.

Sementara itu, neraca transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II membukukan defisit sebesar US$ 8,4 miliar atau setara dengan 3,04% dari PDB.

Angka defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) tersebut jauh lebih dalam ketimbang kuartal I-2019 yang hanya US$ 7 miliar (2,6% PDB).  Bahkan juga lebih dalam dibanding CAD kuartal II-2018 yang sebesar US$ 7,9 miliar (3,01% PDB).

Neraca dagang Indonesia juga mengalami defisit baik di tahun ini maupun lima tahun lalu. Untuk periode Januari-September 2019, defisit neraca dagang mencapai US$ 1,95 miliar. Sementara itu, pada periode yang sama tahun 2014, neraca dagang juga mencatatkan defisit walau lebih rendah yaitu US$ 1,67 miliar.
Sumber : Badan Pusat Statistik
Selain masalah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tumbuh melambat dan neraca dagang yang minus. Indonesia juga sedang menghadapi tekanan global berupa penurunan tajam dari harga batu bara yang sangat tajam.



Sepanjang tahun 2014, harga batu bara anjlok hingga 28,3%. Pada tahun 2019, secara year to date, harga batu bara telah anjlok hingga 32,5%. Itu adalah tiga kemiripan suasana perekonomian 2014 dengan 2019. Ini jadi tantangan buat menteri-menteri yang baru terutama yang terkait dengan perekonomian untuk bikin suasana ekonomi jadi beda. Jadi lebih baik tentunya. 

[Gambas:Video CNBC]




TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading