Daya Saing RI Melorot ke Posisi 50, Salah Siapa?

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
11 October 2019 11:04
Daya Saing RI Melorot ke Posisi 50, Salah Siapa?
Jakarta, CNBC Indonesia - World Economic Forum (WEF) mengeluarkan daftar peringkat negara paling kompetitif di dunia. Dalam laporan tersebut, Singapura terpilih sebagai negara terkompetitif dalam The Global Competitiveness Report 2019 lembaga itu.

Singapura unggul di 103 indikator utama. Mulai dari inflasi, keterampilan digital, dan tarif perdagangan pada 141 negara. Usia harapan hidup, Singapura pun berada di peringkat nomor satu, dengan anak-anak yang baru lahir diperkirakan akan hidup sampai usia 74 tahun.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia?


Indonesia berada di peringkat ke-50. Turun 5 peringkat ketimbang 2018 lalu. Skor Indonesia berada di 64.6. Indonesia berada di peringkat ke-4 di antara negara ASEAN lainnya. Singapura (peringkat 1), Malaysia (peringkat 27), dan Thailand (peringkat 40).

Kekuatan Indonesia adalah dari sisi market size dan stabilitas makro ekonomi dengan nilai masing-masing 82,4 dan 90.

Budaya bisnis Indonesia cukup dinamis, dan sistem keuangan juga stabil. WEF menilai, tingkat adopsi teknologi Indonesia juga tinggi, sayangnya kualitas akses tetap relatif rendah. Serta, yang menjadi catatan adalah kapasitas inovasinya masih terbatas walaupun ada peningkatan.

Wakil Presiden Jusuf Kalla angkat bicara perihal peringkat daya saing global (global competitiveness index) Indonesia dari World Economic Forum (WEF) yang turun dan masih kalah dibandingkan negara lain.

Berbicara di Kantor Wakil Presiden, JK menegaskan bahwa peringkat daya saing Indonesia masih kalah dibandingkan negara-negara kawasan seperti Thailand dan Vietnam.

"Itu selalu kita bicarakan, bahwa tingkat kompetitif kita di bawah Thailand, Vietnam. Mereka lebih baik dari kita. Kita menyadari itu, sehingga harus diperbaiki," kata JK, seperti dikutip CNBC Indonesia, Kamis (10/10/2019).

Dalam pagelaran SDGs Annual Conference 2019 di Senayan, Jakarta, Selasa lalu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro memandang bahwa persoalan regulasi menjadi alasan peringkat daya saing Indonesia masih kalah dari negara lain.

Dia juga menegaskan perlu adanya peningkatan keterlibatan sektor bisnis, filantropi, organisasi non-pemerintah, dan generasi muda dalam inovasi pembiayaan untuk Sustainable Development Goals (SDGs).

"Ya karena regulasi kita terlalu rumit dan institusi pemerintah yang belum terlalu ramah investasi," kata Bambang.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan poin Indonesia hanya turun sedikit. Bukan karena Indonesia tidak berusaha tapi karena negara lebih cepat.

"Turun 0,3 poin skorenya. Penyebabnya karena orang lain (negara lain) memperbaiki lebih cepat, dunia usaha dan segala macam," ujar Darmin

Gelaran pemilihan umum 2019 diyakini menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi turunnya daya saing Indonesia pada tahun ini. Agenda politik yang padat saat itu dianggap telah mempengaruhi pelayanan publik.

"Menurut saya wajar daya saing Indonesia turun. Kita melaksanakan pesta demokrasi, persiapan kampanye yang memakan waktu lama, pelayanan anjlok. Ini yang menyebabkan mengapa turun karena pelayanan tidak maksimal," kata Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Ade Sudrajat,

Menurunnya daya saing Indonesia sudah seharusnya menjadi pelajaran bagi masyarakat. Menurut Ade, sejak era reformasi politik menjadi panglima yang banyak dibicarakan dibanding perhatian pada ekonomi.

Peneliti Indef Andry Satrio Nugroho mengatakan, salah satu penyebab turunnya daya saing karena kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang masih rendah.

"Di tahun ini turunnya tingkat kompetitif kita problem utamanya bukan regulasi saja yang disederhanakan seperti diagnosis pemerintah tetapi perlu diperhatikan tetapi juga kualitas SDM kita," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Jumat (11/10/2019).

Ia menjelaskan, hal ini terlihat dari indikator yang menurun ada di sektor kesehatan, kemampuan tenaga kerja kita (skills) dan kemampuan industri untuk mempekerjakan tenaga kerja tersebut.

"Ini salah satu jawaban juga mengapa investor enggan datang ke Indonesia," kata dia.

Lanjutnya, regulasi juga menjadi hal penting untuk dibuat lebih sederhana, tapi harus dengan perencanaan matang dan jangan asal-asalan.

"Jika disederhanakan secara ugal-ugalan tanpa perencanaan matang, bisa jadi kita terkena imbas dari investasi asing yang akan datang. Semua aspek terutama lingkungan dan manusia semua dilibas demi investasi," jelasnya.

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading