Pepsi Hengkang dari RI, Diduga karena Cukai dan Isu Kesehatan

News - Efrem Siregar, CNBC Indonesia
04 October 2019 20:24
Penyebab Pepsi mengakhiri kontrak dengan mitra di Indonesia memang belum pasti.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pepsi akan hengkang dari Indonesia pada pertengahan Oktober ini. PT Anugerah Indofood Barokah Makmur (AIBM) selaku pemegang hak istimewa merek Pepsi di Indonesia dan PepsiCo.Inc (PepsiCo) sepakat untuk mengakhiri kontrak.

Memang sampai saat ini belum ada pernyataan resmi mengenai alasan Pepsi mengakhiri kontrak. Namun, hengkangnya Pepsi dinilai erat berhubungan dengan deretan regulasi yang bakal diterbitkan pemerintah.

"Pepsi mundur salah satunya, airnya dipajakan, karbon, plastik mau kena cukai. Jadi akhirnya dia berpikir, saya keluar dulu deh sementara dari Indonesia," kata Ketua Komite Tetap Industri Pengolahan Makanan dan Protein, Thomas Darmawan kepada CNBC Indonesia, Jumat (4/10/2019).




Thomas menganggap banyaknya regulasi menjadi bahan pertimbangan untuk korporasi sebelum memutuskan hengkang. Rencana pengenaan cukai plastik misalnya. Ini menjadi hambatan lantaran belum ada substitusi untuk dijadikan kemasan.

Demikian juga UU SDA yang sempat menuai keberatan dari kalangan pengusaha terkait ketentuan bank garansi, dan penyisihan 10% laba usaha untuk konservasi Sumber Daya Air. Ketentuan ini sudah dicoret dalam UU SDA dan diganti dengan Biaya Jasa Pengelolaan Sumber Daya Air (BJPSDA).

Penggunaan SDA yang ditujukan untuk kegiatan usaha akan dikenakan BJPSDA yang lebih lanjut akan diatur melalui Peraturan Pemerintah (PP). Tidak sampai di situ. Thomas mengungkap pemerintah akan mengenakan cukai untuk minuman ringan.

"Khusus untuk minuman ringan, pemerintah berencana mau mengenakan cukai. Minuman bersoda, soft drink dianggap harus dikurangi konsumsinya. Walaupun belum jadi, tetapi wacana itu ada," tambahnya.

Di sisi lain, pertimbangan pasar disebut juga menjadi alasan lainnya. Tren konsumen untuk menikmati teh dan kopi meningkat. Sebaliknya, muncul kekhawatiran risiko kesehatan jika mengonsumsi minuman berkarbonasi.

"Itu mungkin karena orang tahu minum minuman berkarbonasi ada risiko kesehatan karena gulanya tinggi. Pertimbangan itu yang mungkin, partnernya Indofood kok mundur," kata Thomas.



"Jadi pertimbangan ekonomi ada, daripada kita keteteran. Saya tidak tahu persis (mengapa kontrak Pepsi dan AIBM berakhir) tapi ada pertimbangan itu, keuntungannya tidak sesuai, sehingga sementara diputus dulu," ucap Thomas.



Secara umum, industri makanan dan minuman memang terkendala akibat regulasi-regulasi tersebut. Karena itu, Thomas berharap pemerintah dapat menunda sementara penerapan regulasi karena momentumnya tidak tepat di tengah perlambatan perekonomian saat ini.
(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading