Sah, Turki Sudah Resesi!

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
03 September 2019 19:00
Sah, Turki Sudah Resesi!
Jakarta, CNBC Indonesia - Turki resmi masuk masa resesi. Pada kuartal II-2019, ekonomi Negeri Kebab terkontraksi alias minus, melanjutkan 'pencapaian' yang serupa pada kuartal sebelumnya.

Pada periode April-Juni 2019, ekonomi Turki terkontraksi alias negatif 1,5% year-on-year (YoY). Pada kuartal sebelumnya, kontraksi ekonomi Turki lebih dalam yaitu minus 2,4% YoY.




Definisi resesi adalah kontraksi ekonomi dua kuartal beruntun secara YoY pada tahun yang sama. Mengacu pada definisi ini, Turki sudah masuk ke jurang resesi.

Baca: Turki Jatuh ke Resesi Teknikal, Maksudnya Apa?

Data-data ekonomi Turki memang tidak meyakinkan. Pada Juli, inflasi di Turki mencapai 16,55% YoY. Lebih tinggi ketimbang bulan sebelumnya yaitu 15,72%.

Kemudian angka Purchasing Managers' Index (PMi) manufaktur pada Agustus adalah 48. Sejak April, angka PMI manufaktur Turki tidak pernah menyentuh 50. Artinya, dunia usaha masih enggan melakukan ekspansi.

 

Bagaimana dengan mata uang lira? Anehnya, mata uang ini malah menguat tiga hari beruntun. Dalam tiga hari tersebut, apresiasi lira mencapai 1,32%.

Pada pukul 18:38 WIB, US$ 1 dibanderol TRY 5,7619. Lira menguat 0,73% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Baca: Krisis Membayangi, Lira Turki Sudah Anjlok 45% Tahun Ini

Akan tetapi, ada kemungkinan penguatan ini hanya sekadar techincal rebound. Sebab sejak awal tahun, lira sudah melemah 8,96%.



Tahun lalu, tekanan terhadap ekonomi dan mata uang Turki menjadi salah satu kisah yang menyedot perhatian pasar. Apalagi pada saat yang sama Argentina pun mengalami masalah serupa.

Kini sejarah seperti terulang. Argentina masih terjebak dalam masalah pelik, karena situasi politik pasca Pemilu yang kurang kondusif. Pelemahan mata uang peso dan musim kemarau berkepanjangan menambah daftar masalah di Negeri Lionel Messi.


Turki pun sekarang bermasalah, sudah masuk ke zona resesi. Semoga problema di Turki dan Argentina tidak menyebar dan menjadi batu sandungan bagi negara berkembang seperti Indonesia.


TIM RISET CNBC INDONESIA


(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading