Usir 'Hantu' CAD, Sri Mulyani Siap Sebar Insentif

News - Lidya Julita S, CNBC Indonesia
13 August 2019 12:55
Usir 'Hantu' CAD, Sri Mulyani Siap Sebar Insentif
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan, pemerintah akan melakukan berbagai upaya untuk menekan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

Apalagi Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara tak langsung kembali menyinggung masalah CAD dalam rapat terbatas. Kali ini, singgungan Jokowi mengemuka dalam rapat terbatas dengan topik pembahasan evaluasi pelaksanaan mandatori biodisel.

Dengan teguran ini, Sri Mulyani menjelaskan pemerintah akan melakukan kebijakan yang tepat dan dari sisi Kemenkeu adalah instrumen fiskal seperti insentif.


"Pokoknya kami siap dengan seluruh instrumennya membantu kementerian terkait dan pemerintah daerah yang bisa ikut memecahkan masalah CAD itu," kata Sri Mulyani di kantornya, Jakarta, Selasa (13/8/2019).

Pihaknya akan memberikan dukungan untuk tekan CAD secara khusus kepada Kementerian terkait. Misalnya jika mengenai migas maka akan di berikan melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan lainnya.

"Apakah itu Menteri Energi karena ini berhubungan dengan migas, Kementerian Perdagangan, Kementerian Industri, Kementerian Pertanian. Semuanya yang memiliki portfolio di mana penyumbang dari trade maupun account deficit itu terjadi," jelasnya.

Tidak hanya untuk mengurangi impor yang tumbuh lebih tinggi dari ekspor. Tapi juga pihaknya akan memberikan insentif untuk mendorong ekspor tumbuh lebih cepat.

"Kami siap menggunakan instrumen fiskal untuk membantu kementerian terkait dan juga inisiatif dari pemda untuk bisa meningkatkan ekspor," kata dia.

Oleh karenanya, koordinasi dengan Kementerian/Lembaga (KL) terkait akan terus dilakukan. Sehingga diketahui langkah dan kebijakan apa yang dibutuhkan dan bisa diberikan untuk mengurangi tekanan pada CAD.

"Kita akan terus untuk melihat formulasi kebijakan-kebijakan yang makro untuk dilihat lagi kalau ada tambahan jadi feedback dan hubungan kami dengan seluruh KL maupun pemda dan para pengusaha akan terus kita harapkan supaya kita juga bisa terus mengadjust policy kita sesuai kebutuhan," tegasnya.

Sebagai informasi, neraca transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II-2019 membukukan defisit sebesar US$ 8,4 miliar atau setara 3,04% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka defisit transaksi berjalan tersebut jauh lebih dalam ketimbang kuartal I-2019 yang hanya US$ 7 miliar (2,6% PDB). Bahkan juga lebih dalam dibanding CAD kuartal II-2018 yang sebesar US$ 7,9 miliar (3,01% PDB). (dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading