BPH Migas Bongkar Potensi Konsumsi Solar Jebol 1,3 Juta KL!

News - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
17 July 2019 18:41
Konsumsi solar tahun ini bisa jebol kuota hingga 1,3 juta KL
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengelola Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatatkan, realisasi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis tertentu dan jenis khusus penugasan sepanjang semester I-2019 melebihi 50% dari total kuota.

Tercatat, konsumsi solar mencapai 7,56 juta kiloliter (KL) pada Januari - Juni 2019 atau 52% dari kuota yang ditetapkan.

Untuk konsumsi minyak tanah (kerosene) tercatat konsumsinya sebesar 268.362 KL atau 44% dari kuota. Sementara itu, volume realisasi Premium tercaatat 5,87 juta KL sepanjang Januari - Juni 2019 dari total kuota 11 juta KL.




Imbasnya, menurut Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa, ada potensi jebolnya kuota solar subsidi.

"Pasalnya, jika tidak dilakukan penjatahan BBM, potensi jebolnya kuota solar subsidi antara 0,8 juta KL-1,3 juta KL," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (17/7/2019).

Lebih lanjut, ia mengatakan akan berkoordinasi dengan Pertamina, Hiswana Migas, dan Polri untuk melakukan penjatahan BBM disemua SPBU.

Selain itu, BPH Migas juga menyarankan Pertamina mengoptimalkan penerapan teknologi informasi (IT) nozzle di semua SPBU, sebagai alat efektif mengendalikan konsumsi bersubsidi tepat sasaran dengan pencatatan nomor polisi kendaraan yang mengisi BBM. Ia menilai, perkembangan implementasi  IT nozzle Pertamina dianggap terlambat, mengingat sejauh ini baru sekitar 1.000 SPBU dari total target pemasangan 5.518 SPBU.

"Padahal awalnya komitmen selesai di akhir Desember 2018, lalu berubah akhir Juni 2019, sekarang berubah lagi jadi akhir September 2019," tambahnya.

Selain implementasi IT Nozzle, Fanshurullah juga mengusulkan agar truk roda 5 untuk tambang dan perkebunan tidak boleh lagi menggunakan BBM solar bersubsidi. Ia mengatakan, juga telah bersurat kepada Menteri ESDM terkait usulan perubahan konsumen pengguna sesuai Peraturan Presiden No. 191/2014.

"Jika sejauh ini, angkutan barang diperbolehkan, maka selanjutnya diusulkan untuk tidak menggunakan BBM bersubsidi. Selain itu, jika sebelumnya angkutan barang perkebunan dan pertambangan dengan jumlah roda lebih dari enam diperbolehkan menggunakan BBM bersubsidi, ke depannya hanya dibatasi untuk angkutan barang roda empat," tutur Fanshurullah.

Sebagai informasi, dalam lima tahun terakhir, realisasi kuota solar dan subsidi tidak pernah melebihi target yang ditetapkan. Untuk Premium, realisasi kuota tertinggi tercatat pada 2015 dengan capaian 90% atau 12,32 juta KL. Sementara itu, untuk Solar realisasi tertinggi terjadi pada tahun dengan capaian 100% atau sebesar 15,58 juta.
(gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading