O-Bahn Masih Sebatas Kajian, Kemenhub Mau Studi Banding Dulu

News - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
26 June 2019 20:28
Wacana pengembangan O-Bahn untuk mengatasi macet masih sebatas kajian, dan akan ada studi banding.
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berencana melakukan studi banding ke negara-negara yang telah menerapkan O-Bahn. Moda transportasi O-Bhan merupakan perpaduan antara bus rapid dan jalur kereta ringan.

Beberapa negara yang sudah mengadopsi moda transportasi ini yakni Australia, Jepang, China, dan Inggris. Dirjen Perhubungan Darat (Hubdat) Kemenhub Budi Setiyadi mengatakan studi banding dilakukan untuk benchmark penerapan O-bahn.

"Jangka pendeknya kami akan benchmarking ke negara paling dekat dengan Indonesia dan sudah menggunakannya," kata Budi dalam wawancara dengan CNBC Indonesia TV, Rabu (26/06/2019).

Dengan begitu, Kemenhub bisa menentukan daerah mana yang cocok dijadikan pilot project untuk moda transportasi ini. Budi menyebutkan O-Bahn biasanya digunakan di daerah sub-urban dengan populasi 1-2 juta penduduk di setiap kota.




Untuk di Indonesia sendiri, meski masih dalam tahap wacana Budi memastikan akan melakukan kajian lebih lanjut, dan melihat respons dari pasar dan pakar transportasi. Hasil kajian ini baru kemudian diserahkan pada Menteri Perhubungan sebagai bahan pertimbangan.

Budi mengatakan dari negara-negara yang telah mengoperasi O-Bahn seperti Adelaide dan Nagoya, jumlah penduduknya tidak besar. Dia menyebutkan O-bahn cocok untuk daerah untuk yang populasi penduduknya tidak lebih dari 1-2 juta penduduknya.



"Dia bisa elevated, jalan khusus atau jalan yang sudah ada. jadi gabungan BRT dan LRT, kami akan melakukan kajian komprehensif, O-Bahn bisa membawa 2-3 rangkaian, kalau jam sibuk bisa lebih efisiensi, kalau BRT cuma 1 bus, kalau O-Bhan bisa bawa 2 hingga 3 rangkaian sehingga bisa lebih banyak mengangkutnya," kata Budi.

[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading