Kasus Huawei Diblokir Jadi Pelajaran Buat Ponsel Lokal

News - Pablo I. Pareira, CNBC Indonesia
14 June 2019 20:32
Kasus Huawei Diblokir Jadi Pelajaran Buat Ponsel Lokal
Jakarta, CNBC Indonesia - Kemajuan yang dicapai perusahaan teknologi asal China, Huawei Technologies Co. Ltd. hingga berhasil menguasai teknologi 5G memang luar biasa dan pantas membuat Presiden AS Donald Trump ketar-ketir.

Saat Huawei Technologies Co. Ltd diblokir oleh Trump, manajemen Huawei sudah punya alternatif jalan dalam menyelamatkan nasib bisnisnya terutama produk ponsel di penjuru dunia. Ia menyiapkan operating system (OS) Hongmeng, sebagai pengganti Android milik Google yang memblokir Huawei.

Berkaca pada kasus Huawei, menarik untuk melihat, sejauh mana teknologi dan industri ponsel yang berkembang di Indonesia?



Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Janu Suryanto mengatakan industri ponsel masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara lain. Janu menyebut krisis sumber daya manusia (SDM) berkualitas dan penguasaan teknologi menjadi masalah utama pengembangan industri ponsel.

"Masalah di kita itu kekurangan SDM skilled berkualitas] khususnya software engineer. Kita masih kalah dari India. Programming, buat software itu enggak gampang. Lulusan sini pun kan jarang yang ambil software engineering," kata Janu di kantornya kepada CNBC Indonesia, Kamis (13/6/2019).

Ia mencontohkan kebijakan Kemenperin membuat regulasi terkait pengaturan IMEI (International Mobile Equipment Identity) bersama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo). Pihaknya ternyata kesulitan mencari software engineer yang memenuhi kualifikasi.

"Itu saja kita mencari software engineer yang menguasai Python [bahasa pemrograman] susah sekali. Belum ada tuh yang daftar. Sementara di Taiwan sana mahasiswa sarjana maupun magisternya sudah paham Python," keluhnya.



Janu menyebut memang ada Advan, Evercoss dan Mito Mobile sebagai merek-merek ponsel lokal yang mencoba bersaing di tengah serbuan ponsel impor. Namun, sedikit yang menguasai teknologi sistem operasi (operating system/OS).

"Ada software yang dikembangkan Polytron, yakni Fira. Advan juga sudah ada OS sendiri tapi saya lupa namanya. Masalahnya Polytron kalah bersaing di 4G, mungkin nanti di 5G saya akan usahakan supaya dia mau terlibat lagi," kata Janu.

Janu mengakui kalau untuk saat ini Indonesia memang masih tergantung pada impor untuk teknologi perangkat lunak (software).

"Kalau kita mau bikin software sendiri, masih berat. Polytron pun terus terang sudah nggak main lagi. Tinggal Advan, Mito yang masih main dan mereka pun lebih ke hardware. Software-nya sih ada tapi masih sulit. Kita ingin kenaikan TKDN [tingkat kandungan dalam negeri] selanjutnya, transfer teknologinya nanti di software. Tapi ya berat juga mendidik itu," jelasnya.

Adapun untuk perangkat keras (hardware) ponsel, Janu menyebut industri domestik belum mampu memproduksi chip, mainboard, semi-conductor, dan LCD monitor.

"Di dunia saja masih sedikit pabrik yang bisa produksi LCD. Berat itu, biasanya kita impor langsung. Untung sudah ada pabrikan dalam negeri yang bisa produksi backlight, tapi teknologinya masih asing," tambahnya.




Lagi-lagi soal penguasaan teknologi, Janu menyebut Hak Kekayaan Intelektual/ Intellectual Property Rights (HKI/IPR) sebagai kendala bagi industri dalam negeri untuk melakukan transfer teknologi.

"Kemarinan saja ada beberapa merek ponsel Indonesia dituntut pelanggaran IPR sama Nokia. Terus terang, berat bagi kita kalau berhadapan dengan masalah HKI ini. Ini kuncinya di riset dan inovasi, tugasnya universitas kita," tegasnya.

Janu, yang sempat menghabiskan waktu tiga tahun tinggal di Taiwan, mencontohkan bagaimana anak-anak di sana sudah dituntut menguasai sains dan teknologi bahkan sejak tingkat Sekolah Dasar (SD). Menurutnya, itu alasan di balik majunya TSMC (Taiwan Semiconductor) sebagai produsen semikonduktor terbesar di dunia.

"Bayangkan, Intel masih buat [chip] 12 nanometer, dia mau kembangkan teknologi 10 nm tapi belum selesai. TSMC bahkan sudah sampai 5 nm dan sedang mengembangkan teknologi 4 nm. Untuk teknologi semiconductor Indonesia jauh tertinggal puluhan tahun," jelasnya.

Janu menyebut Information Technology Agreement (ITA) WTO 1997 yang diratifikasi Indonesia sebagai penyebab ketertinggalan teknologi Indonesia, karena terpaksa membuka pasarnya bagi produk elektronik impor dengan tarif nol persen.

"Harusnya jangan semua dibuka, karena itulah kita kebanjiran impor saat kita jauh belum siap. Pendalaman struktur elektronika di sini belum maju. Dulu harapannya dengan memancing impor, industri dalam negeri bisa tumbuh, tapi kita kecolongan. Elektronik itu teknologi tinggi, pasar kita sebenarnya tidak siap dibuka," katanya. (hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading