Sri Mulyani Bicara Soal Perempuan dan Kesetaraan Gender di RI

News - Monica Wareza, CNBC Indonesia
13 March 2019 19:07
Sri Mulyani menilai di Indonesia banyak yang memandang mengenai perempuan yang dinilai tidak cocok untuk jenis-jenis pekerjaan tertentu.
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai di Indonesia banyak yang memandang mengenai perempuan yang dinilai tidak cocok untuk jenis-jenis pekerjaan tertentu. Hal tersebut menyebabkan masih rendahnya partisipasi perempuan dalam angkatan kerja dalam negeri.

"Menteri Keuangan di dunia sangat sedikit perempuan. Begitu juga dengan bank sentral juga sama di Indonesia saya jadi Menteri Keuangan perempuan pertama. Bukan karena harus ada perempuan tapi tanggung jawab tertentu harus perempuan maka kualitasnya sama atau lebih baik dari laki-laki. Menunjukkan posisi saya yang sebelumnya ditempati laki-laki saat dijalankan perempuan bisa capai hasil yang jadi ada bukti," kata Sri Mulyani di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Dalam kesempatan "Ring the Bell for Gender Equality" an International Women's Day Event, dia menyebut bahwa tingkat angkatan kerja di Indonesia untuk perempuan di Indonesia jumlahnya baru mencapai 54%, jauh ketinggalan dari jumlah laki-laki yang mencapai 83%. Untuk imbal hasil kerja, jumlah yang diterima perempuan 32% lebih rendah jika dibanding dengan laki-laki.


"Indonesia punya angkatan kerja dan partisipasi perempuan masih kecil dan imbalan kerja yang masih rendah. Ini problem untuk perempuan dimanapun di Indonesia. Mungkin ada stereotip dan bidang yg dianggap tidak cocok dilakukan perempuan. Misalnya sebagai guru di bidang pendidikan sedangkan bidang lain dianggap tidak pantas buat perempuan. Apa karena stereotip sosial, kondisi ini harus ditangani," papar dia.

Menurut dia, justru perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk tetap bisa mengejar karirnya. Sebab, perempuan dinilai memiliki kemampuan belajar yang baik dan memiliki kinerja yang baik namun masih saja banyak persepsi yang menyebutkan bahwa perempuan tak mampu bekerja optimal.

Meski demikian, saat ini di Indonesia sudah mulai bermunculan infrastruktur yang dibuat oleh perusahaan dan instansi negara yang mendukung adanya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Dia menontohkan, di PT Unilever Tbk (UNVR) saat ini sudah disediakan ruangan menyusui hingga penitipan anak untuk mendukung karir ibu-ibu yang bekerja.

Contoh lainnya adalah instansi pemerintahan yang dipimpinnya saat ini. Kementerian Keuangan saat ini menjadi tolak ukur bagi instansi lainnya untuk penyediaan infrastruktur yang mendukung perempuan untuk berkarir. Tak hanya untuk kantor di Lapangan Banteng saja, namun hingga kantor perwakilan di 34 provinsi di seluruh Indonesia.

Selain itu, wanita yang kerap disapa Ani juga menyoroti mengenai kompetisi kerja antara perempuan dan laki-laki. Sampai saat ini masih berkembang bahwa perempuan tak nyaman jika dinilai lebih hebat dibanding laki-laki. Perempuan yang ambisius juga sering didiskreditkan, dinilai tidak pantas.

Untuk menghadapi kondisi yang demikian, perempuan perlu untuk saling mendukung satu sama lain dan memberikan dorongan. Sebab perempuan memiliki kemampuan untuk sampai ke level tertentu tapi memiliki banyak halangan.

"Saya ingatkan ke perempuan kita ini monoritas dan harus saling membatu dan saling mendukung dan beri dorongan karena perempuan bisa sampai ke level tertentu tapi banyak halangan. Apa yang bisa dilakukan dari kebijakan publik untuk kurangi beban perempuan melanjutkan karir," tegas dia.


Simak Video : Menteri Perempuan Kabinet Jokowi yang Bergelimang Prestasi
[Gambas:Video CNBC]


(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading