Waspada! Impor Komoditas Pangan Australia Bakal Makin Deras

News - Samuel Pablo, CNBC Indonesia
07 March 2019 20:15
Waspada! Impor Komoditas Pangan Australia Bakal Makin Deras
Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah sembilan tahun bernegosiasi, Pemerintah Indonesia dan Australia akhirnya resmi menandatangani Kemitraan Ekonomi Komprehensif (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement/ IA CEPA) pada Senin (4/3/2019).

Nantinya setelah melalui ratifikasi oleh parlemen kedua negara, Australia akan menghapus bea masuk (BM) untuk 100% produk Indonesia yang selama ini diekspor ke Negeri Kanguru, yakni sebanyak 6.474 pos tarif. Sebaliknya, Indonesia me-nol-kan bea masuk bagi 94% dari produk Australia yang selama ini masuk ke Nusantara, yang jumlahnya mencapai 10.813 pos tarif.




Selain itu, di sisi perdagangan jasa dan investasi, universitas asal Australia dapat berinvestasi membuka kampus di Tanah Air dengan kepemilikan saham hingga 67% dari yang tadinya hanya 40%. Ini tentu akan bermanfaat bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) RI mengingat banyak universitas Negeri Kanguru yang masuk jajaran kampus top 50 dunia.

Indonesia juga diuntungkan dengan dibukanya akses bagi lebih banyak tenaga kerja profesional seperti perawat untuk bekerja di Australia. Jumlah orang Indonesia yang dapat mengambil liburan sembari kerja di Australia juga akan meningkat menjadi 6.000 orang setiap tahunnya.



Kendati demikian, sektor pertanian, peternakan dan agribisnis di Tanah Air nampaknya harus siap bekerja ekstra keras menghadapi banjirnya impor komoditas pangan asal Negeri Kanguru.

Presiden Federasi Petani Nasional Australia (NFF) Fiona Simson mengatakan, kesepakatan IA-CEPA ini merupakan kemenangan besar bagi petani dan peternak Australia serta akan membuka babak baru dalam hubungan dagang pertanian RI-Australia yang selama ini sudah terjalin erat.

"Sepanjang 2017, hampir setengah (49,5%) produk pangan dan serat kita diekspor ke Indonesia, senilai US$ 3,5 miliar. Indonesia adalah importir nomor satu bagi gandum Australia dan kita adalah pemasok nomor satu bagi kebutuhan daging sapi Indonesia. Produk buah-buahan dan gula kita juga sangat digemari tetangga kita itu," ujar Simson dalam pernyataan resminya, seperti dikutip dari situs resmi NFF.

Waspada! Impor Komoditas Pangan Australia Bakal Makin DerasFoto: Infografis/ infografis Komoditas Impor Utama RI Asal Australia/Aristya Rahadian Krisabella


Simson mencatat, kesepakatan IA-CEPA akan meningkatkan kuota ekspor sapi bakalan Australia ke RI secara signifikan, yakni 575.000 ekor sapi pejantan per tahun dengan bea masuk 0%, di mana jumlahnya dapat meningkat 4% setiap tahunnya hingga mencapai 700.000 ekor.

"Sekitar 70% produk pangan dan serat Australia diperuntukkan bagi ekspor. Perluasan akses pasar di negara tujuan ekspor tradisional kita serta peluang ekspor baru pada akhirnya akan memberikan lebih banyak pendapatan bagi petani dan peternak kita," jelas Simson.



Berikut perincian manfaat yang didapat komoditas pangan dan pertanian Australia melalui IA-CEPA, dihimpun dari situs resmi NFF dan Kementerian Perdagangan dan Luar Negeri Australia (DFAT):

1. Sapi bakalan hidup pejantan. Bea masuk 0% dari sebelumnya 5% bagi 575.000 ekor di tahun pertama. Selanjutnya dapat ditingkatkan 4% per tahun hingga mencapai 700.000 ekor di tahun ke-6

2. Daging sapi beku. Pengurangan BM menjadi 2,5% dari sebelumnya 5% dan dibukanya akses jumlah tak terbatas. Bea masuk akan dihapuskan setelah 5 tahun.

3. Daging domba. Pengurangan BM menjadi 2,5% dari sebelumnya 5% dan dijaminnya akses jumlah tak terbatas. Bea masuk akan dihapuskan setelah 5 tahun.

4. Pangan biji-bijian (termasuk gandum, barley, dan sorgum). Bea masuk 0% bagi kuota 500.000 ton di tahun pertama. Peningkatan volume 5% per tahun setelahnya.

5. Gula. Pengurangan bea masuk menjadi 5% dari sebelumnya 8,8%

6. Produk susu. Penghapusan BM dari sebelumnya 5% bagi produk susu dan krim, konsentrat atau mengandung tambahan gula atau pemanis lainnya, serta bagi keju parut dan keju bubuk dalam bentuk apapun.

7. Jeruk (citrus). Bea masuk 10% dari sebelumnya 25% bagi varian jeruk mandarin untuk 7.500 ton/tahun. Bea masuk dihapus sesudah 20 tahun dengan volume tak terbatas.

Bea masuk 0% bagi varian jeruk oranges untuk 10.000 ton di tahun pertama, kenaikan volume 5% per tahun setelahnya.
Bea masuk 0% bagi jeruk lemon untuk 5.000 ton di tahun pertama, kenaikan volume 2,5% per tahun setelahnya.

8. Kentang. Bea masuk 10% dari sebelumnya 25% untuk 10.000 ton per tahun selama 5 tahun. Setelah tahun kelima, BM 5% untuk 12.500 ton per tahun. Kenaikan volume 2,5% per tahun setelahnya.

9. Wortel. Bea masuk 10% dari sebelumnya 25% untuk 5.000 ton per tahun. Bea masuk akan dihapus secara progresif menjadi 0% dalam 15 tahun. Volume tak terbatas diizinkan dengan BM 0% sesudahnya.

10. Madu. Penghapusan bea masuk secara bertahap dari sebelumnya 5% hingga 2033.

Simak video terkait perdagangan RI dan Australia di bawah ini.

[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading