Hadapi Turbulensi, Bagaimana Nasib Bisnis Maskapai di 2019?

News - Fikri Muhammad, CNBC Indonesia
10 February 2019 10:09
Hadapi Turbulensi, Bagaimana Nasib Bisnis Maskapai di 2019?
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri penerbangan dalam negeri tengah menghadapi turbulensi, mulai dari mahalnya harga tiket, penerapan kebijakan bagasi berbayar, hingga sepinya penumpang. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran akan prospek bisnis maskapai di tahun ini.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara memperkirakan bahwa kinerja maskapai di tahun politik ini relatif berjalan lamban.



Pertumbuhan wisatawan mancanegara tahun lalu yang tidak mencapai target mengakibatkan melambatnya permintaan, ujarnya.


Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah wisatawan mancanegara di sepanjang 2018 mencapai 15,81 juta orang atau naik 12,58% jika dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, angka itu tidak mencapai target yang ditetapkan pemerintah, yaitu sekitar 17 juta jiwa.

Selain itu, Bhima menilai bahwa industri penerbangan sangat berpengaruh terhadap fluktuasi harga bahan bakar dunia sehingga pemerintah perlu memastikan nilai tukar rupiah tetap terjaga.

"Karena pelemahan kurs tidak bisa diprediksi, ke depan bisa berpotensi melemah, belum lagi suku cadang impor, itu juga pengaruh," kata Bhima kepada CNBC Indonesia di ITS Tower, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Kemelut harga minyak mentah yang masih di level US$ 59/barel terus berdampak pada harga energi, juga avtur yang mengambil porsi sekitar 40%-50% dari komponen biaya maskapai. Beberapa maskapai yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga masih menanggung rugi.

Hadapi Turbulensi, Bagaimana Nasib Bisnis Maskapai di 2019?Foto: Ilustrasi bandara (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Adalah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) pada laporan keuangan per September 2018 mulai mengurangi rugi bersih menjadi US$114,08 juta dari September 2017 sebesar US$ 222,04 juta dengan pendapatanya yang mulai naik dari US$3,11 miliar menjadi US$3,22 miliar. 

Namun, PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) justru merugi Rp 639,16 miliar, naik dari sebelumnya Rp 416,74 miliar.

Perbincangan publik juga ramai mengenai harga tiket pesawat yang meroket hingga 100% lantaran biaya operasional maskapai terus meningkat. Hal ini membuat warganet beramai-ramai menyuarakan mahalnya tiket pesawat dengan petisi online.

Kepala Riset PT Koneksi Kapital Indonesia Alfred Nainggolan menganggap bahwa risiko ini rasional.


"Faktor kenaikan harga tiket memang dijadikan alasan untuk menutup kenaikan biaya operasional, kenaikan avtur, itu rasional diterima pasar," ucap Alfred kepada CNBC Indonesia beberapa waktu lalu.

Memang tidak ada relasi yang cukup kuat yang bisa membuktikan bahwa jika harga avtur turun, pendapatan maskapai penerbangan naik dan meraih untung, kata Alfred. Pada 2017, misalnya, saat harga minyak mentah dunia jatuh ke level US$50 dolar/barel, Garuda Indonesia masih mencatatkan kerugian bersih senilai Rp 2,88 triliun.

"Artinya bahwa seperti dalam konteks sekarang harga minyak dunia rendah enggak bisa munculkan optimisme, buktinya belum terlihat, perolehan laba belum konsisten," tutur dia.

"Saya katakan tahun 2019 emiten maskapai memang masih berat," ujarnya.


Saksikan video mengenai penyebab mahalnya harga tiket pesawat berikut ini.

[Gambas:Video CNBC]



(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading