Sudah 2019, Tapi Keterampilan Pekerja Indonesia Masih Rendah

News - Yanurisa Ananta, CNBC Indonesia
08 February 2019 13:26
Sudah 2019, Tapi Keterampilan Pekerja Indonesia Masih Rendah
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan, produktivitas pekerja Indonesia rendah. Hal ini disebabkan perpindahan pola pekerja Indonesia dari sektor agrikultur melompati sektor manufaktur kemudian langsung berpindah ke sektor jasa konvensional.

"Ekspektasi kita pekerja [labour] yang pindah dari agrikultur lalu ke sektor manufaktur kemudian nanti ke sektor jasa [service]. Apa yang terjadi di Indonesia setelah krisis [1998], pekerja langsung ke sektor jasa yang produktivitasnya rendah," kata Bambang dalam seminar peluncuran buku laporan Kebijakan untuk Mendukung Pembangunan Sektor Manufaktur di Indonesia 2020-2024 bersama ADB, Jumat (8/2/2019).

Untuk mengatasi persoalan pengangguran, lanjut Bambang, hal itu sah-sah saja. Namun, pola itu tidak bisa dipertahankan jangka panjang. Sektor manufaktur, seperti yang ditekuni Korea Selatan, Tiongkok, Thailand dan Jepang, menitikberatkan pada produktivitas.


Hal itu, kata Bambang, menjadi alasan mengapa Pemerintah perlu mendorong kebijakan lebih untuk sektor manufaktur. Ia menyebut, potensi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB/GDP) Indonesia saat ini sebesar 5,3%.

"Kalau tidak ada manufaktur kita tidak punya sumber untuk mendorong GDP lebih tinggi. Kalau kita tidak melakukan apa-apa maka ada potensi tantangan dan bahaya bahwa ekonomi kita bisa lebih rendah dari 5%. Itu akan susah mengurangi kemiskinan dan pengangguran," tambah Bambang.

Bambang menjelaskan, dari total 121,02 juta pekerja kebanyakan dari pekerja berketrampilan rendah. Di sektor agrikultur, 99,41% pekerja memiliki keterampilan rendah, hanya 0,47% masuk kategori semi-skilled dan 0,13% yang berketrampilan. Begitu juga di sektor manufaktur, hanya 3,03% pekerja yang memiliki keterampilan, sebesar 6,52% masuk kategori semi-skilled dan 90,45% berketrampilan rendah.

"Itu alasan kenapa kita perlu merevitalisasi sektor manufaktur, kalau kita ingin GDP kita lebih tinggi dari 5,3%. Kita perlu pertumbuhan di sektor manufaktur yang lebih tinggi dari pertumbuhan GDP kita," tuturnya.

Berkaca pada hal itu, lanjut Bambang, banyak pihak yang menyebut Indonesia mengalami deindustrialisasi yang prematur. Artinya, Indonesia belum sampai pada puncak periode industrialisasi namun sudah mengalami penurunan. Negara yang sudah mengalami itu, diantaranya Jepang, Korea Selatan dan Tiongkok.

"Sebelum sampai pada level lebih tinggi kita sudah mengalami penurunan itu sendiri. Artinya, kita belum sampai sana tiba-tiba kita sudah jauh dari sana," ujarnya.

Jika Indonesia terus bertumpu pada sektor komoditas sebagai sumber ekspor, maka akan berpengaruh terhadap trade balance. Kalau trade balance turun maka current account deficit (CAD) akan membesar.

"Sayangnya kita belum belajar dari pengalaman ini." pungkasnya.

Saksikan video Gelombang Tsunami PHK :

[Gambas:Video CNBC]


(dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading