Internasional

Brexit Berantakan, Desakan Referendum Kedua Memanas

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
18 January 2019 08:06
Brexit Berantakan, Desakan Referendum Kedua Memanas
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah kehebohan drama politik Inggris dalam satu pekan terakhir, kini banyak pihak menyerukan untuk diadakan referendum Brexit kedua.

Desakan itu muncul setelah Perdana Menteri Inggris Theresa May gagal mendapatkan persetujuan parlemen atas rancangan perjanjian Brexit yang ia ajukan. Ia bahkan terancam digulingkan namun berhasil memenangkan pemungutan suara mosi tidak percaya Rabu malam lalu.



Para pemimpin politik dari Partai Nasional Skotlandia (SNP), Plaid Cymru dari Wales, Partai Green dan Demokrat Liberal, semuanya menyerukan kepada sesama partai oposisi mereka, Partai Buruh, untuk bergabung dan menyetujui referendum kedua Brexit, yang dikenal sebagai "People's Vote".


Dalam sebuah surat terbuka kepada pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn setelah kegagalan mosi tidak percaya yang dia upayakan, para pemimpin partai itu mengatakan mereka menulis untuk "memohon" kepadanya agar mulai saat ini mendukung ajakan"People's Vote" demi mendapatkan keputusan final Brexit.

Brexit Berantakan, Desakan Referendum Kedua MemanasFoto: Infografis/Brexit/Arie Pratama

Pascal Lamy, mantan kepala Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), mengatakan kepada CNBC hari Kamis (17/1/2019) bahwa dia juga yakin referendum kedua "sekarang ini merupakan pilihan yang tepat."

"Saya tidak akan mengatakan itu enam bulan lalu dan saya termasuk di antara mereka yang percaya bahwa kemungkinan referendum baru sangat rendah, tetapi saya pikir kemungkinan itu jelas lebih tinggi sekarang. Tapi tentu saja untuk skenario seperti itu harus ada perpanjangan waktu antara Inggris dan UE," ujarnya, dilansir dari CNBC International.

"Saya pikir semua orang tahu bahwa mengorganisir referendum kedua, atau meluangkan waktu untuk merekonsiliasi berbagai posisi yang belum dilakukan selama dua setengah tahun terakhir (di Brexit) tidak akan dilakukan dalam satu minggu," tambahnya.

Menurut tenggat waktu sesuai aturan Uni Eropa, Inggris harus sudah secara resmi keluar dari blok itu pada 29 Maret mendatang.


Setelah nyaris kalah pada Rabu malam, Theresa May mengundang pihak lain untuk bekerja dengannya menemukan jalan keluar dari kebuntuan tentang Brexit. Partai Buruh mengatakan itu hanya akan dilakukan jika skenario tanpa kesepakatan (no-deal) dikesampingkan.

Nicola Sturgeon, menteri pertama Skotlandia dan pemimpin SNP, juga meminta perdana menteri untuk mengesampingkan skenario no-deal dan mempertimbangkan referendum kedua.

Para pemimpin industri yang berpengaruh dari dunia ritel, media, dan telekomunikasi Inggris juga menyerukan referendum kedua pada hari Kamis.

Dalam sebuah surat kepada surat kabar The Times, 130 eksekutif mengatakan "pelaku usaha mendukung kesepakatan Brexit perdana menteri meskipun mengetahui bahwa itu jauh dari sempurna. Tapi itu bukan lagi pilihan ... Kami mendesak kepemimpinan politik kedua pihak untuk mendukung People's Vote."

"Satu-satunya cara yang layak adalah dengan bertanya kepada orang-orang apakah mereka masih ingin meninggalkan Uni Eropa. Dengan waktu yang terus berdetak sebelum kita harus berhenti, politisi tidak boleh membuang waktu lagi pada fantasi."

Brexit Berantakan, Desakan Referendum Kedua MemanasFoto: Brexit (Mark Duffy, House of Commons via AP)

Seruan untuk referendum Brexit kedua juga datang dari para pemimpin politik, kepala bisnis dan mantan perdana menteri saat ini, termasuk Tony Blair, Gordon Brown, dan John Major.

Kelompok-kelompok Pro-Brexit berpendapat bahwa mengadakan referendum lain merupakan langkah yang tidak demokratis, dengan alasan bahwa pemerintah harus bekerja untuk mewujudkan hasil referendum 2016.

Perdana menteri juga berulang kali menolak mempertimbangkan referendum Brexit kedua.


(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading