Bagaimana Nasib IA-CEPA di Tahun Politik?

News - Samuel Pablo, CNBC Indonesia
07 January 2019 12:30
Bagaimana Nasib IA-CEPA di Tahun Politik?
Jakarta, CNBC Indonesia - Nasib Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement/ IA-CEPA) hingga saat ini belum juga menemui titik terang.

Perundingan IA-CEPA yang sejatinya telah diselesaikan akhir Agustus 2018 lalu dan ingin ditandatangani oleh kedua kepala negara pada November nyatanya hingga hari ini belum juga terealisasi.

Wacana pemindahan kedutaan besar Australia untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem disinyalir menjadi alasan Indonesia mengancam untuk menahan penandatanganan IA-CEPA. Sebab, langkah itu sama saja Australia menganggap Yerusalem sebagai ibu kota tunggal Israel.


Indonesia, yang berkepentingan untuk mengakui status Yerusalem sebagai ibu kota bersama dengan Palestina, tentu saja keberatan. Politik luar negeri pun menjadi alasan terhambatnya perjanjian dagang dengan Negeri Kanguru yang ditunggu-tunggu selama 7 tahun.

Bagaimana Nasib IA-CEPA di Tahun Politik? Foto: Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) Kementerian Perdagangan, Iman Pambagyo (CNBC Indonesia/Samuel Pablo)


Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) Kementerian Perdagangan, Iman Pambagyo kepada CNBC Indonesia di kantornya, Jumat (4/1/2019), menjelaskan, langkah Indonesia dalam melakukan negosiasi IA-CEPA tidak terlepas dari politik luar negeri Indonesia.

"Buat saya dan pak menteri (Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita), tugas atau mandat untuk merundingkan CEPA dengan Australia selesai. Nah sekarang dibawa ke konteks politik luar negeri, kita tinggal tunggu sinyal saja dari Kementerian Luar Negeri bagaimana hasilnya," kata Iman.

Menurut dia, unsur politik luar negeri bermacam-macam. Ada koridor demi koridor yang harus diperhitungkan. "Tapi kembali lagi, pak menteri dan kita semua di Kemendag berpendirian bahwa tugas kita untuk merundingkan ini selesai," ujar Iman.

Terlepas dari polemik yang ada, IA-CEPA memiliki urgensi yang sama dengan Indonesia-EFTA CEPA. Pasar Austrlia memang tak sebesar China, AS atau Uni Eropa. Namun, menurut Iman, aspek penting dalam IA-CEPA adalah jasa dan investasi.

"Pasti ada beberapa produk unggulan yang memang bisa kita dorong ke sana, tetapi itu seharusnya bukan menjadi satu-satunya andalan. Jadi kalau melihat IA-CEPA hanya dari goods (perdagangan barang), itu pincang melihatnya," kata Iman.

"Kita harus lihat dari potensi sektor jasa, termasuk pergerakan tenaga kerja profesional kita ke sana, kemudian potensi investasi sektor pendidikan mereka di sini. Itu kan yang ditekankan Pak Presiden (Presiden RI Joko Widodo)," ujarnya.



(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading