Kominfo Berpotensi Lelang Frekuensi Bekas First Media

News - Monika Wareza, CNBC Indonesia
03 January 2019 17:03
Kementerian Kominfo berpeluang membuka kesempatan bagi entitas lain untuk memanfaatkan pita frekuensi radio 2,3 GHz
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) berpeluang membuka kesempatan bagi entitas lain untuk memanfaatkan pita frekuensi radio 2,3 Gigahertz (GHz) di Jabodetabek dan Medan, Sumatera Utara, yang saat ini kosong. 

Kendati membuka peluang pemanfaatan, hingga kini belum ada entitas atau perusahaan yang mengajukan izin penggunaannya. Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Kominfo Ismail mengatakan frekuensi yang kosong tersebut saat ini kembali menjadi milik pemerintah.

Pihaknya juga masih fokus dalam penyelesaian hak-hak pelanggan pengguna frekuensi yang sebelumnya digunakan PT Internux, PT First Media Tbk (KBLV), dan PT Jasnita Telekomindo.


"Ke depan, sangat mungkin [frekuensi] digunakan oleh entitas lain, tapi saat ini belum kami bahas. Belum ada [yang mengajukan pemanfaatan frekuensi yang kosong]," kata Ismail kepada CNBC Indonesia, Kamis (3/1). Pemerintah belum bisa menyampaikan rencana selanjutnya soal pemanfaatan frekuensi tersebut.

Namun dia menegaskan bahwa frekuensi adalah sumber daya alam terbatas yang seharusnya digunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan masyarakat luas.

Kosongnya pengguna frekuensi radio 2,3 GHz ini terjadi pasca-izin penggunaan oleh perusahaan sebelumnya dicabut oleh Kominfo pada 28 Desember 2018.

Sebelumnya jaringan ini digunakan oleh Internux, First Media, dan Jasnita Telekomindo. Namun, First Media menunggak Biaya Hak Pakai (BHP) sejak 2016-2017 sebesar Rp 364,8 miliar dan Internux sebesar Rp 343,5 miliar.

Terkait kosongnya frekuensi ini, PT Smarfren Telecom Tbk (FREN) sebelumnya menyatakan tertarik membeli frekuensi 2,3 GHz milik First Media jika frekuensi tersebut dikembalikan kepada pemerintah. "Tentu saja kami tertarik jika memang frekuensi tersebut akan dikembalikan dan dilelang pemerintah. Frekuensi barang langka, kalau habis ya habis," kata Djoko Tata Ibrahim, Deputi CEO Smartfren.
(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading