Gunung Anak Krakatau Erupsi, Abu Membubung Sampai 1600 Meter

News - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
03 January 2019 13:32
Gunung Anak Krakatau Erupsi, Abu Membubung Sampai 1600 Meter
Jakarta, CNBC Indonesia- Telah terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau, Lampung pada 03 Januari 2019 pukul 12.03 WIB. Erupsi ini menimbulkan abu dengan tinggi kolom abu teramati ± 1.600 m di atas puncak atau ± 1.710 m di atas permukaan laut). 

Berdasarkan laporan dari Badan Geologi, kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal condong ke arah utara dan timur laut. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 31 mm dan durasi ± 1 menit 10 detik, dan tidak terdengar suara dentuman. 




Saat ini Gunung Anak Krakatau berada pada Status Level III (Siaga) dengan rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 5 km dari kawah

Adapun, sebelumnya, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudy Suhendar mengungkapkan, hingga 2 Januari 2019, berdasarkan hasil evaluasi seismik dan data visual yang dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terhadap Gunung Anak Krakatau menunjukkan saat ini masih dalam fase erupsi, di samping itu masih terekam kegempaan di stasiun seismik di Pulau Sertung berupa gempa-gempa letusan, hembusan, dan tremor menerus dengan amplitudo maksimum dominan 7mm.

"Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih Siaga (level III) dan erupsi masih terjadi sehingga masih terdapat ancaman berupa lontaran material letusan, sehingga direkomendasikan untuk tidak mendekat dalam radius 5 kilo meter dari kawah, yaitu di dalam area yang dibatasi oleh Pulau Rakata, Pulau Sertung, Pulau Panjang. Status Siaga ini hanya berlaku untuk aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau," ujar Kepala Badan Geologi, Kementerian ESDM, Rudy Suhendar, Rabu (2/1).

Rudi juga menjelaskan bahwa tidak ada potensi terjadinya tsunami dari aktivitas vulkanik GAK tersebut. "Berdasarkan analisis data yang dimiliki, Badan Geologi menyimpulkan bahwa tidak ada potensi terjadinya tsunami yang disebabkan oleh aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau," lanjut Rudy.

Gunung Anak Krakatau Erupsi, Abu Membubung Sampai 1600 MeterFoto: Infografis/Krakatau Siaga/Edward Ricardo


Sebagaimana diketahui, pada tanggal 26 Desember 2018 terjadi letusan besar yang menyebabkan longsoran besar yang menghancurkan seluruh puncak Gunung Anak Krakatau sehingga tingginya yang semula 338 meter berkurang hingga hanya lebih kurang 110 meter di atas permukaan laut. Runtuhnya seluruh puncak dan sebagian besar tubuh tersebut tidak menimbulkan tsunami.

"Adapun yang disinyalir sebagai adanya retakan di lereng Gunung Anak Krakatau, hal itu merupakan sisa-sisa dari proses runtuhan yang disebabkan letusan tanggal 26 Desember 2018, dan itu adalah hal yang wajar di dalam letusan gunungapi. Tidak perlu dikhawatirkan," tandas Rudy.  (gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading