Pertamina Anggarkan US$ 200 Juta untuk Cari Potensi Migas

News - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
29 November 2018 19:27
Pertamina Anggarkan US$ 200 Juta untuk Cari Potensi Migas
Jakarta, CNBC Indonesia- PT Pertamina (Persero) menganggarkan sekitar US$ 200 juta untuk melakukan studi bersama (join study) selama 2019-2023, untuk kegiatan mencari potensi migas.

Direktur Hulu Pertamina Dharmawan Samsu mengatakan lokasi studi bersama tersebut ada di lepas pantai Aceh, di lepas pantai Natuna, di daerah Kalimantan hingga Papua. Studi bersama itu rencananya akan dilakukan dalam waktu dekat.

Pertamina Anggarkan US$ 200 Juta untuk Cari Potensi Migas Foto: Direktur Hulu Pertamina Dharmawan Samsu ketika dijumpai dalam gelaran Pertamina Energy Forum 2018. (CNBC Indonesia/Anastasia Arvirianty)






"Ada potensi eksplorasi di tempat baru, di luar blok eksisting," kata Dharmawan kepada media ketika dijumpai dalam gelaran Pertamina Energy Forum 2018, di Jakarta, Kamis (29/11/2018).

Lebih lanjut, Dharmawan menceritakan, salah satu temuan Pertamina dari hasil studi bersama yang sukses adalah Blok Tomori, Sulawesi Tengah. BUMN migas ini menggandeng Medco untuk mengembangkan gas dari temuan baru di blok itu, dan akan memproduksi 95 juta kaki kubik per hari (mmscfd). 

"Gas itu akan dialokasikan untuk PT Pupuk Indonesia di sekitar proyek tersebut," tuturnya. 

Selain itu, ia juga memastikan, Pertamina akan melakukan studi di beberapa blok yang bisa cepat komersialisasinya, terlepas dari skema apapun yang digunakan, perusahaan akan tetap gencar untuk mencari dan menemukan cadangan migas. 

"Eksplorasi itu mau menggunakan cost recovery atau gross split sama saja. Kalau tidak discovery enggak dapat apa-apa jadi kerugian buat investor. Jadi gak perlu mempolemikkan," tandasnya.

Adapun, sebelumnya, Direktur Keuangan Pertamina Pahala N Mansury menuturkan, perusahaan menganggarkan belanja modal kurang lebih sebesar US$ 5,5 miliar untuk modal kerja perusahaan di tahun depan.

Lebih lanjut, Pahala mengatakan, belanja modal tersebut rencananya 50% akan digunakan untuk modal kerja di sektor hulu, dan 25% di sektor hilir.

"Kemudian termasuk ekspansi refinery dan 25% untuk pengembangan infrastruktur logistik," tutur Pahala kepada media saat dijumpai dalam gelaran Pertamina Energy Forum 2018, Jakarta, Rabu (28/11/2018).

Belanja modal tahun depan mengalami peningkatan dibanding belanja modal tahun ini, yang awalnya dianggarkan sebesar US$ 5,59 miliar, tetapi direvisi menjadi US$ 4 miliar. Fluktuasi harga minyak dan nilai tukar Rupiah menjadi salah satu penyebab revisi ini.


(gus/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading