Internasional

Ada Harapan Perang Dagang AS-China Akan Berakhir

News - Prima Wirayani, CNBC Indonesia
28 November 2018 07:06
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah memulai kembali pembicaraan dengan pemerintah China di semua level.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah memulai kembali pembicaraan dengan pemerintah China di semua level jelang pertemuan antara presiden kedua negara, kata penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow, Selasa (27/11/2018).

Para pemimpin dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu akan bertemu di sela-sela pertemuan G20 di Argentina hari Jumat dan Sabtu.


Trump dan Presiden China Xi Jinping akan membicarakan isu perdagangan setelah serangkaian bea impor yang dikenakan oleh kedua negara berkontribusi terhadap risiko pelemahan ekonomi global. Keduanya akan makan malam bersama hari Sabtu, CNBC International melaporkan.


Washington dan Beijing telah saling berhubungan kembali dan membicarakan jalan menuju kesepakatan perdagangan dan pertemuan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk membuat terobosan setelah beberapa pembicaraan yang mengecewakan beberapa bulan terakhir, kata Kudlow kepada wartawan.

Di G20, Trump akan memusatkan perhatiannya pada beberapa isu termasuk dugaan pencurian hak kekayaan intelektual oleh China, kepemilikan perusahaan AS di China, dan halangan tarif dan non-tarif, tambahnya.

"Kami banyak berkomunikasi dengan pemerintah China di semua level," kata Kudlow. "Kami dulu berada dalam posisi diam. Tidak ada yang terjadi."

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi JinpingFoto: CNBC
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping
Sejak menjabat, Trump telah mendesak China untuk mengatasi berbagai isu yang ia sebut sebagai praktik perdagangan yang tidak adil dan menurunkan surplus dagang dengan AS.

Sebagai bagian dari upayanya mendorong China ke meja perundingan, Trump telah menjatuhkan bea impor terhadap berbagai produk China senilai US$250 miliar (Rp 3.645 triliun). Langkah itu memicu aksi balasan dari China yang telah memukul berbagai bidang usaha Negeri Paman Sam, khususnya pertanian.

Dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journal hari Senin, Trump mengatakan sangat tidak mungkin AS akan menunda kenaikan bea impor menjadi 25% terhadap produk China senilai US$200 miliar yang akan terjadi awal tahun depan. Ia juga mengisyaratkan akan mengenakan bea masuk terhadap impor China senilai US$ 267 miliar bila Washington dan Beijing gagal mencapai kata sepakat di Argentina.

Trump melihat kemungkinan AS dan China dapat mencapai kesepakatan dalam makan malam hari Sabtu, kata Kudlow hari Selasa.


Saat ditanya apakah penambahan pengenaan tarif impor akan merusak perekonomian AS, Kudlow menjawab produk yang terdampak hanyalah sebagian kecil dari perekonomian namun menambahkan bahwa akan ada pemenang dan pecundang dalam kondisi tersebut. Ia menyebut AS lebih mampu menghadapi risiko itu dibandingkan China.

"Presiden Xi memiliki kesempatan untuk mengubah nada dan isi pembicaraan ini. Presiden Trump telah mengindikasikan dirinya terbuka," kata Kudlow. Ia berpendapat bahwa Beijing harus berupaya lebih keras menanggapi permintaan AS.

Artikel Selanjutnya

Trump Sebut China Menghormati 'Otaknya yang Sangat Besar'


(prm)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading