BPS Akui Masih Kesulitan Kumpulkan Data e-Commerce

News - Rivi Satrianegara, CNBC Indonesia
23 August 2018 15:10
BPS Akui Masih Kesulitan Kumpulkan Data e-Commerce
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) masih belum akan merilis data e-commerce. Pasalnya, BPS mengakui kesulitan melakukan pendataan atas transaksi jual beli secara online ini.

Kepala BPS Suhariyanto menyebut, masih butuh usaha besar untuk bisa mengumpulkan data secara menyeluruh. Untuk saat ini, BPS baru bisa memberi gambaran saja atas komoditas apa yang paling sering diperjualbelikan secara online.

"Untuk besaran total, kami belum bisa berikan karena ini effort pertama kali. Jadi kami mendekati yang besar-besar dulu dan perlu kerja sama erat lagi baik dari kementerian dan lembaga, dan pelaku-pelaku e-commerce," jelas Suhariyanto ketika ditemui di kawasan Thamrin, Kamis (23/8/2018).


Kendala utama dalam pendataan adalah para pedagangan online yang dilakukan menawarkan juala di media sosial, seperti Facebook dan Instagram. Suhariyanto mengakui, hal tersebut tergolong berat dilakukan dan masih perlu kesadaran dari para pelaku untuk mau bekerja sama dalam melakukan pendataan tersebut.

Pendataan e-commerce diperlukan BPS untuk mengukur besaran ekonomi digital di mana sektor ini akan menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia di masa mendatang dan untuk menarik dan mengukur kepatuhan pajak.

Perekaman data e-commerce dilakukan BPS sejak awal tahun ini. Data yang akan ditangkap oleh BPS antara lain berupa omzet, investasi asing dan lokal, transaksi, metode pembayaran, tenaga kerja serta teknologi dalam sebuah e-commerce.

"Mungkin ada [e-commerce] yang mengeluhkan [pendataan], tapi itu kan engak bisa kita hindari. Namanya juga kita memasuki revolusi industri 4.0, bahwa penjualan online lewat digital adalah sebuah kenyataan yang harus kita hadapi," sambungnya.

Dia pun tak bisa berjanji, kalau pendataan BPS akan menyertai keseluruhan transaksi perdagangan melalui e-commerce pada tahun ini, meningat sulitnya pendataan tersebut. Maka dari itu, pihaknya akan terus bekerja sama dengan Kementeri Koordinator Bidang Perekonomian yang memang menangani e-commerce.

"Namun data e-commerce sudah ada yang masuk untuk inflasi. Tapi dengan in-depth study dan studi kecil kami, misal taxi online kita sudah masukkan ke inflasi. Inflasi di transportasi," ungkapnya.


(roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading