RI Punya Klub Filantropi Orang Kaya, Belajar dari Bill Gates?

News - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
30 July 2018 19:47
RI Punya Klub Filantropi Orang Kaya, Belajar dari Bill Gates?
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia ternyata memiliki perhimpunan miliarder yang berkomitmen kuat menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk tujuan filantropi, dan membantu pembangunan pemerintah.

Filantropi Indonesia, yang terdiri dari 15 asosiasi yang mewakili 500 pengusaha kaya maupun lembaga-lembaga itu telah menyatakan komitmennya untuk membantu pemerintah mencapai target pembangunan berkelanjutan atau SDGs pada 2030 mendatang.

Filantropi Indonesia, yang dinamakan Filantropi dan Bisnis Indonesia untuk SDGs (FBI4SDGs) nantinya akan ikut serta dalam membangun program SDGs yang sudah disepakati oleh 190 kepala negara pada September 2015 lalu.


Ini telah lebih dahulu dilakukan oleh Warren Buffett dan Bill Gates yang memotivasi gerakan Giving Pledge. Sang mogul Microsoft, Gates dan guru investasi Buffet, selama ini berusaha keras meyakinkan kaum berduit di Negeri Paman Sam tersebut untuk menyumbangkan 50% harta mereka bagi kegiatan amal.

Dimulai dari tahun 2010 oleh Bill dan sang istri Melinda Gates yang telah menyumbang senilai US$ 88,5 miliar (Rp 1.274 triliun) , dan Warren Buffett, senilai US$ 74,2 miliar (Rp 1.068 triliun) melalui Giving Pledge.

Komitmen oleh individu dan keluarga kaya ini adalah semata untuk memberikan lebih dari separuh kekayaan mereka untuk pengentasan kemiskinan, bantuan pengungsi, bantuan bencana, kesehatan global, pendidikan, pemberdayaan perempuan dan anak perempuan, penelitian medis, seni dan budaya, reformasi peradilan pidana dan kelestarian lingkungan.

Penandatangan kampanye Giving Pledge yang dilakukan para miliarder ini bukan hanya karena uang yang mereka berikan. Namun tujuan lainnya yakni membuat janji kepada publik untuk mendorong orang lain untuk mempertimbangkan filantropis (target pembangunan pemerintah berkelanjutan) bahkan sekalipun mereka bukan miliarder.

Awalnya, tak mudah bagi Buffet mengajak para miliarder untuk berpartisipasi dalam Giving Pledge. Namun dengan pendekatan sederhana, Buffet pun berhasil menggaet para miliarder dunia dan setuju atas gagasan Buffet tersebut.

Siapa sangka, sedikitnya empat belas miliarder pada tahun lalu diumumkan bahwa mereka telah menandatangani Giving Pledge dan secara resmi bergabung dengan 154 miliarder lainnya yang telah berjanji untuk memberikan setidaknya separuh dari kekayaan mereka yang besar untuk tujuan filantropis. Beberapa diantaranya seperti Dagmar Dolby, Robert Frederick Smith Leonard H. Ainsworth, Anne Grete Eidsvig dan Kjell Inge Rokke.

Saat ini, Gates Foundation yakni lembaga amal swasta yang dibentuk Gates bersama istrinya, Melinda telah mendukung organisasi di lebih dari 100 negara. Yayasan tersebut telah bekerja untuk memberantas polio secara global dalam tiga tahun ke depan.

Kendati telah memberikan puluhan miliar dolar, Bill Gates tetap menjadi individu terkaya di dunia. Bill dan Melinda Gates, bersama dengan Warren Buffett, dikatakan menjadi salah satu pendiri Giving Pledge yang serius untuk perubahan yang lebih baik.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menyebut, Filantropi dan Bisnis Indonesia untuk SDGs (FBI4SDGs), yang dibentuk beberapa waktu lalu tak jauh berbeda dengan Giving Pledge.

Giving Pledge merupakan sebuah organisasi yang dimulai oleh Warren Buffet, Bill & Melinda Gates untuk mendorong orang-orang terkaya di dunia untuk menyumbangkan sebagian kekayannya membangun beragam bisnis.

Namun menurut Bambang, ada sejumlah perbedaan antara FBI4SDGs dengan Giving Pledge. Jika organisasi tersebut fokus pada kegiatan di seluruh dunia, maka FBI4SDGs hanya fokus pada di Indonesia, untuk membantu pembangunan SDGs.

"Ada kemiripan [dengan Giving Pledge], tapi mereka [FBI4SDGs] fokus di Indonesia," ungkap Bambang saat berbincang dengan CNBC Indonesia, Senin (30/7/2018).

Lantas, apakah Filantropis Indonesia sudah berkontribusi terhadap pembangunan SDGs? Bambang menyebut, sudah ada beberapa anggota perhimpunan tersebut yang membantu pembangunan.

"Sudah ada, tapi belum terkoordinasi. Sendiri-sendiri, dan beberapa tidak terekam datanya," jelasnya.

(dru/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading