Menperin Bantah Faisal Basri Soal Penyebab Rupiah Jeblok

News - Samuel Pablo, CNBC Indonesia
24 July 2018 13:48
Impor migas merupakan faktor utama pendorong defisit perdagangan.
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menampik kritik ekonom INDEF, Faisal Basri yang mengatakan pelemahan kurs rupiah diakibatkan oleh menurunnya kontribusi industri pengolahan (manufaktur) dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Airlangga, salah satu penggunaan devisa yang terbesar dialokasikan untuk impor bahan bakar minyak (BBM). Impor BBM yang terlampau besar itu yang menyebabkan neraca perdagangan RI tertekan dan akhirnya turut melemahkan nilai tukar rupiah.

"Kalau industri pengolahan itu surplus, jadi Pak Faisal Basri datanya sepotong-sepotong. Industri non-migas itu surplus, nah kita menjadi defisit karena ada beberapa hal, salah satunya migas," jelas Airlangga di kantornya, Selasa (24/7/2018).


Airlangga menambahkan, pemerintah kini sedang mendorong penggunaan biofuel dan biodiesel 20% atau B20 (bauran minyak sawit dalam bahan bakar solar sebanyak 20%). Hal ini dilakukan untuk mengurangi impor BBM dan pada akhirnya mengurangi defisit neraca perdagangan.

Menurutnya, pemerintah bisa menghemat devisa hingga US$ 5,6 miliar per tahun dengan penerapan B20 yang lebih luas.

"Kalau dengan B20 itu kita bisa menghemat US$ 21 juta per hari atau minimal US$ 5,6 miliar per tahun. Dengan demikian, ini tentu akan mengurangi defisit itu," tegasnya.



Sebelumnya, Faisal Basri mengatakan pelemahan industri ini disebabkan oleh perusahaan asing yang tidak lagi masuk ke industri manufaktur berbasis ekspor, sehingga menyebabkan repatriasi profit perusahaan asing sangat besar mencapai US$ 33 miliar.

"Repatriasi profit perusahaan asing luar biasa besar berdasarkan data BI. Current account deficit kita US$ 17 miliar, barang masih surplus US$27 miliar, tapi defisit repatriasi dan bayar bunga itu US$ 33 miliar karena asing yang di Indonesia itu tidak lagi di industri manufaktur yang berorientasi ekspor. Jadi melemahnya rupiah ya karena industrinya semakin melemah," jelas Faisal, Minggu (22/7/2018) kemarin.

Artikel Selanjutnya

Faisal Basri Beri Catatan Plus Minus Pada Kinerja Jokowi


(ray/ray)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading